Kalau ngomongin tentang Walur, banyak sejarah yang tercatat di tempat ini. Mulai dari saya awal menginjakkan kaki di Krui yang gak bisa sama sekali berenang, Walur lah tempat saya belajar bersahabat dengan samudera, berani mengapungkan diri di kedalaman laut, sampe akhirnya sekarang bertempat singgah disini. Walur bisa dibilang salah satu tempat yang eksotis di Pesisir Barat, Lampung. Selain pantainya yang bersih dan masih alami, lautnya yang terbilang cukup aman untuk berenang karena jauh dari ombak pecah. Dan yang lebih menariknya adalah Walur punya spot khusus yang bisa dijadikan tempat snorkeling. Kalau kasian berapa di pusat kota Krui, ikutin aja jalan pantai yang ada di depan Pantai Labuhan Jukung, gak bakal nyasar kok. Atau tinggal cari aja di aplikasi maps kalian, pasti bakal ketemu.
Senin, 06 Juli 2020
Selasa, 25 September 2018
BONO, Ombak Surfing Sungai Dari Air Pasang
Waktunya berfestival ria, kali ini saya berkesempatan
nyambangin salah satu dari 100 Calender Of Event Kementerian Pariwisata yang
ada di Sumatera Bagian Atas. Festival Bono Surfing 2018, yang bakal digelar
selama tiga hari oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Riau, , 22-24 September
2018. Sebagai seorang peselancar amatiran yang baru bisa berdiri udah senengnya
minta ampun, bisa menyaksikan langsung fenomena langka yang berkaitan dengan surfing ini bakal jadi
pengalaman yang sangat luar biasa.
Bono Surfing, fenomena alam berupa gelombang yang terbentuk
dari arus air pasang laut yang bertemu dengan
muara yang lebar, ditambah dengan angin dan tebing di sisi kanan kirinya,
terciptalah ombak yang cukup tinggi. Dengan tinggi ombak bisa mencapai 6 meter,
memanjang sekitar 300 meter dengan kecepatan 40 kilometer per jam, menjadi tantangan dan data tarik
tersendiri bagi para peselancar dari
seluruh dunia, terlebih lagi ini bukan ombak di laut. Fenomena Bono berada di Sungai Kampar, Teluk
Meranti Kabupaten Pelalawan, sekitar perjalanan 6 sampai 7 jam dari Pekan Baru.
![]() |
| Senyum dikit, cekrek !!! |
Kamis subuh, 22 November 2018, musti bener-bener bangun nyubuh,
karena kedapetan pesawat ke Jakarta pagi buta pukul 06.30 WIB dan jarak Bandar
Lampung ke Bandara memakan waktu hampir sejam. Udah buru-buru nih buka mata
dari kemoloran untuk ngejer biar gak ketinggalan Pesawat, ehhh ternyata delay
jua yang didapat. Yahhhh, biasa si singa terbang ada beberapa kendala yang
harus dilewati, demi keselamatan bersama tak apalah nunggu-nunggu bentar kan.
Akhirnya di jam delapan pesawat baru lepas landas dan mendarat di Bandara Soeta
sekitar jam sembilan. Ketemu dengan rombongan lain, bang Fery, Rizal dan Bang
Rizky Polii, yang ternyata reseh cuma liatin doang waktu saya lewat tanpa nyapa
dan manggil. Ketambahan abang Oeday sang forwapar, rombongan lengkap lanjut
terbang ke Pekan Baru dan mendarat sekitar jam satu siang dan disambut Bang
Joko dan Dewi dari Genpi Lokal. Di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru,
kami masih nunggu satu orang lagi, Abang Jalu si Korlap yang terbang langsung
dari Jogjakarta, setelah terkumpul perjalanan kami disambung dengan jalur darat
menuju Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Tiba di Pangkalan Kerinci,
mencari tempat menginap untuk beristirahat mempersiapkan fisik kegiatan hari
esok, tak lupa makan malam dulu dong biar gak oleng.
Jumat, 23 November 2018, selepas sarapan kami sudah ditunggu
oleh Kadisbudparpora Kabupaten Pelalawan untuk ngobrol ringan sambil ngopi di
salah satu kedai kopi yang ada di Pangkalan Kerinci. Sambutan senyum ramah saat kami sampai dan langsung dengan tawaran
suguhan kopi mengawali obrolan. Kami yang minim informasi tentang acara
Festival Bono Surfing, banyak-banyak tanya ngalor ngidul tentang teknis acara
guna pemaksimalan pengambilan konten acara. Pak Kadis juga menyampaikan
harapan-harapannya tentang kelanjutan Bono Surfing yang menjadi andalan
pariwisata Kabupaten Pelalawan. Beliau berkeinginan Bono Surfing jadi salah
satu destinasi wisata unggulan yang bisa mendatangkan para peselancar lokal
maupun luar negeri, bahkan lebih jauh lagi bisa mengadakan kontes surfing tingkat
international yang sudah dilaksanakan di Mentawai, Bali dan yang tempat lain,
yang kemudian diharapkan bisa mendukung perekonomian, khususnya di sekitar
Sungai Kampar Teluk Meranti, Pelalawan.
Selepas ngobrol bareng Pak Kadis, rombongan Kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak
dan berjum'at. Sorenya, dengan rekomendasi dari google, kami sepakat untuk
mengunjungi destinasi baru yang sepertinya sedang naik daun di dunia
peronlinenan, Danau Tajwid Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Sampe disana
ternyata sudah kepasang plang tulisan informasi kalau jalur menuju danau
kebanjiran. Akhirnya kami maksimalkan waktu untuk jeprat jepret, ambil foto dan
video tipis d bawah jembatan di dekat jalan menuju Danau Tajwid, beberapa
aktifitas warga dan landscape dari Sungai Kampar ketangkep kamera. DIrasa
cukup, lanjut dah menuju venue acara Pertunjukan Seni dan Budaya malam nanti,
meskipun masih sore dan acara dijadwal jam delapan malem. Sampai di tempat
acara lanjut ngopi-ngopi lagi sambil nyemil dan pesen jagung bakar, serta
disambut oleh Genpi Pelalawan dan akhirnya ngobrol becanda.
Waktunya pertunjukan seni dan budaya Festival Bono Surfing
dimulai, yang juga dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Industri
dan Pengembangan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pembukaan, sambutan
dan akhirnya pertunjukan awal Tari Bono ditampilkan. Tari yang menggambarkan
suasana suka ria dari para peselancar yang sedang menari-nari di atas ombak
langka yang tercipta di Sungai, yang bahkan bisa sampai berpuluh kilometer
tanpa putus. Dilanjut dengan pertunjukan
Silat Api yang menjadi atraksi khas budaya Riau, bersilat sambil bermain
api yang hanya dilakukan oleh para professional warga lokal, dan ditutup dengan
musik akustik dari para anggota Genpi Pelalawan. Selesai pertunjukan seni
budaya sekitar jam sebelasan, sang Korlap Mas Jalu mengarahkan rombongan untuk kembali
ke hotel, beristirahat ria. Karena jam dua dini hari Kami harus ngotewe menuju
Teluk Meranti tempat puncak Festival Bono Surfing dimana The Seven Ghosts
berada, untuk mendapatkan suasana pagi disana.
Jam dua malem bersiap menuju Teluk Meranti, menghabiskan
waktu sekitar empat jam untuk tiba ditujuan dengan kondisi beberapa bagian jalan cukup bergelombang membuat kesan
perjalanan semakin berwarna. Sesuai perkiraan, sampe disana sekitar jam enam
pagi dan zonk dong karena cuaca mendung, padahal harapan awal bisa dapet
sunrise yang cakep dari balik sungai kan. Yes, cuaca kita gak bisa prediksi,
semoga semakin siang semakin cerah. Ambil dan video beberapa di sekitaran
dermaga Teluk Meranti, lanjut nyari sarapan pagi karena perut udah mulai
keroncongan. Untung di deket Dermaga ada warung makan di tepian sungai, lumayan
bisa pesen lontong sayur dan kopi tentunya. Selang beberapa waktu, terlihat hilir mudik para peselancar lokal
menuju dermaga, sesekali nampak juga bule-bule berambut pirang yang sudah pasti
peselancar dunia yang seperti para partisipan Bono Surfing siang ini.


Sekitar jam sembilan, para peselancara lokal dan para
peselancar “bule” sudah terlihat berkumpul di dermaga, bersiap untuk diangkut
menuju spot ombak Bono muncul menggunakan perahu cepat. Rombongan tamu undangan
dan penonton masyarakat umum disediakan kapal lebih besar, kami para pemburu
foto dan video diarahkan menggunakan speedboat guna mengimbangi kecepatan Bono
dan memaksimalkan konten yang didapat. Saya fikir awalnya spot Bono ya gak
begitu jauh dari dermaga Teluk Meranti, ternyata perahu cepat kami saja melaju
hampir sekitar satu jam barulah sampe di tempat sang Bono muncul. Di perjalanan
menyusuri Sungai Kampar yang ternyata sangat luas, sesekali bang Rizal Polii
tengak tengok ke pinggiran sungai. Iseng-iseng nanya, ternyata sesuai dengan
firasatku, jawabannya “kalo-kalo ngeliat
buaya lagi berjemur”. Sambil tetep waspada sih sebenernya, karena sungai seluas
itu dan pertamuan langsung dengan laut, gak menutup kemungkinan adanya buaya
muara, kalo buaya darat ya di perahu kami aja udah banyak. “Kita tunggu disini
Bononya”, kata sang pilot perahu, sambil menyandarkan kapal di tepian sungai. Sambil
nunggu si Bono dateng, karena kelupaan juga kami bawa kopi buat sruput-sruput di kapal kan,
Mas Jalu langsung ngide gara-gara liat air sungai yang warnanya coklat pekat,
“Langsung ciduk aja dari samping itu, tambahin gula dikit, ngopi dahhhhh”.
Yahhh, emang mirip-mirip bgt sih warnanya sama produk kopi sachet yang namanya
mirip artis Tora Sudiro.
Rombongan lagi pada
nguap-nguap, ngantuk karena gak bawa kopi, dari kejauhan terlihat jetsky menuju
tempat kami neduh dan sang joki JetSky
berteriak “Bono Datang , Bono Datang !!!.”, yang membuat hati kami
deg-degan. Maklum, ini pertemuan pertama kami dengan si Bono, janjian ketemu
di Festival Bono Surfing 2018 inilah,
akankah jatuh cinta di pandangan pertama, hehehe. Beberapa detik kemudian,
terdengar dari kejauhan suara gemuruh dan disusul dengan penampakan gelombang besar
dengan tinggi sekitar 3-4 meter dan berbaris rapi tinggal berlapis tujuh ombak
mendekat ke arah kami. Waw, itukah Bono
yang kami tunggu-tunggu ???? Tanpa komando sang pilot mengarahkan perahu cepat
kami mendekati sang Bono. Salah satu bule, yang digonceng JetSky tepat di depan
ombak Bono, perlahan melompat ke air dan langsung mendayung papan selancarnya
dengan kuat untuk mendapatkan dorongan dari ombak, sampai tepat waktunya untuk
berdiri di atas ombak Bono, mulailah dia menari-nari dengan lincah. Kami sudah
siap dengan senjata masing-masing, habiskan pelucu kamera, abadikan semua
gerakan dan atraksi yang ada di depan mata. Peselancar pertama jatuh karena
kehilangan keseimbangan, disusul dengan peselancar berikutnya, bahkan di satu
waktu keduanya mengambil ombak bersama, sungguh tontonan yang luar biasa dan
langka.
Setelah beberapa waktu yang cukup lama, si Bono bercumbu
dengan peselancar luar negeri, sekarang saatnya para peselancar lokal bersiap
menungganginya. Terlihat mereka sudah berbaris rapi, menunggu si Bono
menghampiri. Padlle istilah mengayuh di atas papan selancar, mereka lakukan
bersama saat ombak Bono dating. Beberapa sudah berhasil berdiri, beberapa
lainnya masih asyik tiduran di atas papan sambil menunggu waktu tepat untuk
berdiri. Moment yang paling menarik adalah saat peselancar lokal dan luar
negeri, semua berdiri di atas papannya masing-masing, berjejer rapi dan saling
mempertunjukkan skilnya, tak luputlah semua momen dari jepretan kami. Sampai
tak terasa begitu jauh sapuan ombak Bono mendorong para peselancar sampai
akhirnya ombak semakin mengecil dan menghilang, ternyata sudah hampir sampai
kembali di Dermaga Teluk Meranti. Usai sudah sang Bono menghibur kami. Terima
kasih Bono, engkau indah dan menawan.
Tips bagi yang berkeinginan juga mengabadikan momen Bono
Surfing adalah, pilih sopir perahu yang benar-benar berpengalaman dan faham dengan karakteristik
pergerakan ombak Bono. Karena kejadian kami adalah ada saat momen dimana
seluruh sungai ditutupi oleh gelombang Bono, istilah mereka terkepung Bono.
Butuh skil tersendiri untuk keluar dari kepungan Bono tersebut, yaitu melawan,
dan melewatinya. Jika sang sopir tidak lihai, habislah kapal digulingkan oleh
si Bono. Itulah yang terjadi pada rombongan kami yang berbeda perahu. Sekian,
terima kasih untuk waktu membacanya….
Minggu, 29 Juli 2018
Gerhana Bulan Berdurasi Terlama Abad ini !!!
Gerhana Bulan berdurasi terpanjang di
abad 21 ini, 103 menit lamanya. Yeah, informasi yang sudah menyebar dari berita
online maupun media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook dan mungkin
saja juga Friendster yang sudah entah dimana rimbanya sekarang. Peristiwa yang
memiliki kemiripan dengan gerhana yang terjadi di tahun 2000 dan bakal terulang
di tahun 2036 mendatang, benar saja banyak yang bilang malah ini peristiwa langka dan sangat sayang untuk
dilewatkan.
![]() |
| Amunisi menemani hunting gerhana bulan |
Sabtu, 28 Juli 2018 dini hari bakal jadi
malam yang panjang, menunggu momen perubahan dari purnama menjadi gerhana. Dan
sudah saya putuskan untuk membunuh waktu
di Anjung Katoeng (anjung adalah istilah lain dari rumah), kediaman Cik To
ketua Kruimotret (Komunitas Fotografi di Krui, Pesisir Barat). Amunisi
tambahan, seperti durian, kopi Liwa dan ubi yang siap dibakar sudah disiapkan
untuk menemani amunisi utama, yaitu kamera, lensa tele dan tripod.
![]() |
| Kopdur alias kopi duren, biar mata melhek |
Terkumpul empat personil KruiMotret, Cik
To sang ketua, saya, Deta dan Agung yang sudah siap sedia di Anjung Katoeng,
meskipun yang motret dan siap senjata
hanya saya dan Cik To. Sedangkan
kedua personil lain selalu asik
masing-masing dengan game yang sedang menjangkit seluruh umat manusia. Pukul 23.00
WIB, saya mencoba melakukan pamanasan dengan memotret bulan yang memang sedang
bulat-bulatnya kayak tahu yang digoreng dadakan. Langit sepertinya sedikit
berawan, jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk mengambil gambar saat bulan
tidak terhalangi awan sambil terus berharap langit akan cerah nanti saat
gerhana bulan mulai terjadi.
Memfoto bulan butuh lensa dengan Focal
Length yang panjang, tidak akan maksimal jika memakai lensa kit atau standar.
Lensa dengan FL 70-300 yang dimiliki, saya rasa cukup lah meskipun nantinya
butuh cropping lagi, setidaknya lumayan untuk menangkap guratan-guratan jerawat
sang rembulan. Dan yang pasti butuh tripod untuk menstabilkan kamera saat
mengambil gambar, karena terkadang memaksakan setingan dengan speed rendah, terlebih jika langit berawan
dan menghalangi bulan. Jika kondisi cerah dan memakai tripod, setingan ISO 100,
F 8-10, speed 100-200 akan mendapatkan foto bulan yang sempurna.
![]() |
| Sang Cikto memainkan kameranya |
Kopi duren sudah ludes dan sedang
diproses perut, sang ubi sedang dalam
proses pembakaran, dini hari mulai tiba dengan ditemeni suara musik “poki-poki”
yang selalu berhasil menggoyangkan jari-jemari terdengar dari kejauhan
(biasanya ada yang sedang berpesta/acara). Sesuai dengan info dari BMKG, pukul
00.13 WIB gerhana bulan dimulai. Dan
benar saja, sang rembulan mulai "termakan" sedikit demi sedikit,
membuat saya Dan Cik To sibuk bercumbu
dengan kamera untuk mencari setingan kamera yang tepat. Dengan terus mengikuti
pergerakan bulan menuju ke barat, layaknya sang kera sakti mencari kitab suci,
hingga di Pukul 01.24 WIB fase U1 dimana Gerhana Bulan Sebagian tiba.
Untung ada ubi yang telah menghitam
karena bara api, menemani detik-detik datangnya Gerhana Total Mulai di pukul
02.30 WIB yang disebut fase U2 (yah meskipun dengan resiko produksi angin
belakang meningkat). Di fase ini membutuhkan kerja keras dari kamera dan lensa,
karena meskipun bisa dilihat dengan mata telanjang tak berpakaian, namun dengan
kondisi mata yang minus ditambah fungsi liveview layar kamera tidak sanggup
menangkap cahaya bulan gerhana, itu amat sangat menguras tenaga dan fikiran
(berasa ujian skripsi, padahal lulusan DIII).
Pukul 03.15 WIB awan gelap menyelimuti
langit Krui, Pesisir Barat, sudah menunggu beberapa saat dengan harapan akan
cerah kembali, namun tetap saja sang langit menggajak, Dan seketika mematahkan semangat kami untuk memotret,
padahal Puncak Gerhana di pukul 03.22 WIB. Seperti biasa, alam tidak bisa
dilawan namun tetap bersyukur sudah bisa
mengabadikan dan menjadi saksi hidup terjadinya Fergana Bulan Total yang menjadi fenomena langka ini,
yang bisa menjadi cerita anak cucu kelak. Jangan lupa sholat khusyuf dan selalu
berdoa agar dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya, aamiin ya robbal
‘alamin.
Jumat, 20 Juli 2018
Hunting Lava Pijar Gunung Anak Krakatau
Sepakat Jam 07.00, Berangkat
jam 08.30
Letusan Krakatau, kalau berpatokan
pada sejarah tahun 1883 pasti akan membuat semua orang takut dan khawatir. Letusan besar yang terdengar hingga
3.000 mil jauhnya, menewaskan setidaknya 36 ribu jiwa, hingga menjadi letusan gunung api
paling dahsyat dalam sejarah. Kondisi berbeda untuk saat ini, Gunung Anak Krakatau yang tingginya
300 meteran, beberapa minggu ini aktivitasnya mengalami kenaikan yang menjadi
status waspada, sudah ada larangan untuk
mendekatinya namun tetap aman untuk radius 1 kilometer.
Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau
menjadi panggilan tersendiri bagi om Budhi Marta Utama @paralampung, fotografer
senior di Lampung, yang sudah puluhan
kali mengunjungi gunung tersebut dan beberapa kali mengabadikan fenomena
erupsinya. Dimulai dari ajakan beliau di grup WhatApps @GenpiLampung untuk sharecost Hunting Lava Pijar Gunung
Anak Krakatau, tapi hanya beberapa
anggota saja yang berminat. Kalau kata bang Aries @riez_aries, hasil seleksi
berdasarkan ketampanan dan kemampuan bertahan hidup akhirnya terpilih tiga
peserta dari grup Genpi Lampung, Om Budhi @paralampung, Bang Aries @riez_aries
dan saya Rino @akunrino. Untungnya ada tambahan peserta dari luar grup, yaitu
om Dedi @dediacad, bang Ferdi @ferdi_awed sang Pewarta Foto, Ardy @ardynar kawan
bang Ferdi dan satu bule nyasar dari Prancis si Pier.
Rabu, 18 Juli 2018 jam 7 pagi Kami
sepakat untuk berkumpul di sekitar Lapangan Saburai Bandar Lampung. Seperti
biasa, keterlambatan datang sudah jadi pemakluman dan penundaan keberangkatan
juga sudah jadi hal biasa. Terlebih dua sejoli bang Ferdi dan Ardy yang agak
lumayan lama Kami tunggu, nyasar di kota sendiri atau malah memang kebiasaan
dari jaman sekolah hobi terlambat masuk kelas.
Setelah pasukan terkumpul di pukul
08.30 WIB, kami langsung tancap gas menuju Kota Kalianda, Lampung Selatan.
Sepanjang jalan diisi dengan obrolan perkenalan, bercanda dan tegur sapa,
karena memang beberapa masih belum saling mengenal, terlebih si Pier sang bule
dari Perancis. Sekitar lebih dari satu jam sampailah kami di Kota Kalianda,
singgah sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut karena ada anggota
tim yang belum sarapan. Beberapa sarapan, yang lain ngopi sambil menikmati
gorengan,. Di lain sudut, om Budhi menawari Pier untuk mencoba makanan yang
pasti belum pernah dia coba, tapi dia langsung berkomentar “ENAK SEKALI” dengan
logat bulenya. Karedok, yahh makanan Indonesia banget, menjadi salah satu
makanan khas Sunda berisi sayuran mentah yang dilumuri bumbu kacang sebagai
sausnya. Setelah kenyang, kami segera
menuju Dermaga Canti, karena sudah ada informasi dari om Budi kalau bang Candra
sang pilot Kapal sudah standby di Dermaga.
![]() |
| Terlihat kegiatan warga di Dermaga Canti, Lampung Selatan |
Perjalanan laut dimulai
Tak sampai 30 setengah jam, kami
sampai di Dermaga Canti, dari sini lah nanti perjalanan laut menuju Gunung Anak
Krakatau dimulai. Bang Candra dan beberapa awak kapal langsung menyambut kami,
dan bergegas membawa segala perlengkapan ke kapal. Tambahan logistik untuk bertahan hidup nanti
(padahal cuma mie instan dan kopi), sudah disempatkan berbelanja di minimarket
depan dermaga dan nasi bungkus masakan ibu-ibu warung makan sekitar dermaga sebagai
stok makan siang. Di pukul 11.00 WIB kami memulai berlayar mengarungi Selat
Sunda menuju tengah samudera. Baru berselang beberapa menit kapal berlayar,
bang Aries diam-diam membuka nasi bungkusnya dan nampak sekali nasi kombinasi
sayur dan ikan dipindah perlahan ke perutnya, yang berujung menular ke saya dan
yang lain. Sejam lebih perjalanan,
terlihat Dermaga Pulau Sebesi yang akhirnya kapal menyandarkan hatinya sejenak
disana. Ada beberapa kebutuhan pokok yang di bawa awak kapal yang harus
didistribusikan ke Pulau Sebesi tersebut. Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk
yang biasanya menjadi tempat singgah dan bermalam bagi para wisatawan yang
melakukan trip ke Gunung Anak Krakatau. Saya menyempatkan waktu untuk
menerbangkan si Mavic, mengambil footage secukupnya.![]() |
| Pulau Sebesi dari ketinggian, terlihat dermaga baru yang ada disana |
Abu Krakatau menyapa
Perjalanan berlanjut menuju target, satu jam setengah waktu yang dibutuhkan dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau, istirahat sejenak jadilah. Tak sempat pejamkan mata terlalu lama, sudah terdengar teriakan “Krakatau, Krakatau”. Yes, dari kejauhan terlihat penampakan Gunung Anak Krakatau membuat semua keluar dari dalam kapal berpindah ke atas dan depan kapal untuk mencari spot nyaman memotret. Cekrek…. Cekrek …. Cekrek….. suara shooter sudah mulai bersahutan. Sesekali juga terlihat segerombolan asap tebal keluar dari puncak Gunung Anak Krakatau, itu erupsinya. Semakin mendekat ke Krakatau, semakin terasa penglihatan mulai terganggu, ternyata debu erupsinya mengarah ke kapal kami. Untung sudah bersiap dengan kacamata andi badai, yang tak tertolong adalah baju putih “Pesona Indonesia” yang saya pakai, sudah berubah menjadi abu-abu. Om Budhi meminta sang pilot untuk menggerakkan kapal mengitari Gunung Anak Krakatau, namun tetap dalam radius aman.
![]() |
| Sapaan debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) |
Letusan demi letusan terjadi,
suara seperti gemuruh petir menyapa telinga. Disusul gumpalan asap dan lontaran
batu terlihat dari kejauhan. Tak
henti-hentinya kami mengabadikan momen itu, foto dan video, dari kamera maupun
handphone, semua merekam kejadian luar biasa yang ada di depan mata. Sesekali
Pier dinobatkan sebagai model of the day, untuk inframe dan sebagai pemanis
dalam komposisi foto. Nampak juga para
awak kapal menyempatkan diri berselfie ria, ternyata mereka juga narsis.
Pulau Rakata, Spot Hunting Lava
Pijar Krakatau
Setelah puas dengan belasan
telusan, tepat pukul 14.30 WIB kapal mengarah ke sebuah pulau besar tepat di
seberang Gunung Anak Krakatau. Ada tiga pulau yang ada di sekitar Gunung Anak
Krakatau, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata yang berjarak
sekitar 4 KM dari Gunung Anak Krakatau, radius sangat aman untuk status waspada
saat ini dan menjadi tempat singgah sementara dan sebagai spot untuk hunting
lava pijarnya. Pulau berpasir hitam dan
bersemak belukar, terdapat sedikit sisi
pulau spot untuk kami buka tenda. Pier dan om Dedi membangun tendanya, yang
lain sibuk mencari batang pohon yang kuat untuk menambatkan hammock sebagai
tempat bergelantungan memejamkan mata malam nanti. Berselang waktu, yang lain
sibuk menentukan spot menancapkan tripodnya, saya dengan semangat memasak air
putih untuk menyeduh kopi, ngopi ngapak ngopi !!!!!
![]() |
| Bentang pantai di Pulau Rakata, radius aman untuk memandang Gunung Anak Krakatau (GAK) |
Petunjuk om Budhi, lava pijar akan
terlihat dan saat peralihan dari terang ke gelap, artinya ba’da magrib baru
akan nampak. Dan lagi-lagi saya menyempatkan menerbangkan si Capung Rekam, guna
mendapatkan aerial view Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan,
setelah itu baru mencari spot untuk memotret.
Semua sudah pada tempatnya
masing-masing, Bang Aries, Om Dedi dan Pier memilih sayap kiri, saya da nom
Budhi gelandang tengah, sedangkan Bang Ferdi dan Ardy di posisi sayap kanan.
Lengkap sudah strategi menyerang kami, tanpa memikirkan pertahanan. Sedikit
tegukan kopi hangat dari gelas darurat potongan botol air mineral, menemani
petang menunggu detik-detik letusan terjadi. Pengaturan manual kamera, dengan
ISO rendah, bukan lensa di pertengahan, untuk mengusahakan speed rendah, agar
pergerakan lontaran lava pijar bisa terekam di foto. Senja indah mengiringi
hari menyambut malam, kepulan asap menampakkan diri dengan diiringi suara
dentuman letusan yang besar. Dengan sigap, semua memencet tombol shooter
kameranya masing-masing, masa iya kamera tetangga. Setelah sekian detik
menangkap gambar dan akhirnya terlihat di layar kamera. Teriakan demi terikan
terdengar, suara kegembiraan telah bisa mengabadikan lava pijar dalam sebuah
foto, yang ternyata indah saat hari gelap. Berkali-kali letusan, berkali-kali
pula kamera menangkapnya. Sampai akhirnya suasana sudah terlalu gelap dan sang
Gunung Anak Krakatau tak terlihat lagi bentuk tubuhnya, yang artinya sudah
tidak maksimal untuk pengambilan foto.
Api Unggun Pantai VS Kembang
Api Krakatau
Yahhh selanjutnya, waktu
dihabiskan untuk menyantap logistik yang sudah di bawa jauh-jauh dari Pulau
Sumatera. Mie instan bersama pendamping setianya sang telur mulai dimasak, dan
tanpa menunggu waktu lama segera disantap dan habis tanpa bekas sedikitpun.
Tambahan nutrisi dari roti dan buah-buahan yang di bawa bang Ferdi, katanya sih
panen di rumah.
Setelah perut penuh terisi, lanjut
semua berpencar mencari kayu kering dan sampah-sampah untuk dibakar dan dibuat
api unggun. Selain untuk menghangatkan tubuh di malam yang angin lumayan
kencang, nyamuk juga kabur berlarian dan tak berani mendekat ke rombongan kami.
Api unggun, kopi hangat, petikan nada dari guitarlele dan canda tawa disertai
suara petir menyambar sembari melihat langsung semburan lava pijar yang seperti
kembang api besar dari puncak Gunung Krakatau, semua terasa luar biasa dan
menjadi hal yang memuaskan jiwa. Larut,
dan malam semakin larut. Satu persatu memustuskan untuk kembali ke kamar
masing-masing (tenda dan hammock), untuk sekedar memejamkan mata dan memulihkan
tenaga, dengan harapan esok hari sebelum subuh akan mendapatkan momen seperti
sore tadi.
![]() |
| Berapi unggun ria, mengusir pasukan nyamuk dan hawa dingin |
Belum sampai waktu subuh, masih
sekitar pukul satu dini hari. Antara sadar atau masih tertidur terdengar suara
letusan erupsi yang cukup besar, dan benar-benar membuat hati deg-degan.
Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi, letusan sampai di lokasi kami
beristirahat. Bahkan batu-batu lava pijarnya terasa berjatuhan di sekitar kami.
Alhamdulillah dan bersyukur itu hanya hayalan bawah sadar, namun menjadi
pengalaman dan cerita tersendiri yang tak pernah bisa dilupakan.
Pagi yang mencekam !!!
Setelah subuh, semua sudah bersiap
dan berhasil mengabadikan beberapa letusan, hingga pagi dan sinar matahari
mulai menerangi. Beralih kembali memproses logistik untuk mengisi sela-sela
perut yang sudah mulai longgar kembali. Mungkin karena kelebihan muatan, bang
Ferdi sudah mulai gelisah dan ternyata kontraksi terjadi dan perut mulai
memberontak. DI Pulau tak berpenghuni seperti ini mana mungkin ada WC
Umum, kondisi seperti itu yang membuat
suasana sangat mencekam. Akhirnya dengan gagah perkasa dia memberanikan diri
menuju ke ujung pulau guna bingkar muatan. Setelah bang Ferdi tuntas, dan dating dengan raut muka riang gembira,
dan tanpa dinyana menular ke saya, mules juga ternyata perut. Yaps,
saya putuskan untuk mengikuti jejak beliau yang lebih senior, namun tanpa
mengusik markasnya yang sudah diamankan dari serangan musuh.
Hasil Jepretan Letusan Gunung Anak Krakatau


Sayonara
Akhirnya waktu untuk pulang dan
kembali ke peradabannya masing-masing. Terima kasih untuk Om Budhi Marta Utama
yang telah membawa saya dan teman-teman yang lain menyaksikan fenomena alam
yang sangat mempesona dam berhasil mengabadikannya. Mungkin ini akan menjadi pengalaman
yang tidak akan pernah terlupakan, sampai kapanpun. Semoga alam selalu
bersabahat, dan semoga kita selalu bisa menikmati keindahannya. Terima kasih…
Senin, 02 Juli 2018
Tebing Megah Pinggir Pantai di Ujung Pesisir Barat
Postingan om Budhi Marta Utama alias @paralampung tanggal 12
Maret 2016 di akun Instagramnya mampu membuat saya terkagum dan "kepo". Sesepuh
fotografer di Lampung ini mengunggah foto tebing megah di pinggir pantai dengan
caption "The Hidden Paradise" dan
tagar #pesisirbaratsumatera #lampung. Jelas sekali kalau foto tersebut diambil dari ketinggian, sudah
pasti om Budhi memotret sambil terbang menggunakan paramotornya. Jauh hari
sebelumnya sudah pernah melihat foto serupa yang diupload beliau di akun
Facebooknya, dan sempat saya komentar mempertanyakan lokasi tempat tersebut,
dan jawabannya cuma sebatas "ada dech".
Sungguh mati aku penasaran, sampai mati pun akan
kuperjuangkan, kata penyanyi dangdut. hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu
mulai viral di sosial media terutama Instagram. Foto dari beberapa akun
instagram di lokasi yang serupa dan tertulis Pantai Tanjung Jati, yang menjadi
salah satu pekon/desa di Kecamatan Lemong, Pesisir Barat. Minggu, 1 Juli 2018,
saya dan beberapa teman yang ada di Krui, langsung meluncur menuju lokasi yang
menjadi incaran saya sejak lama.
Dengan bersepeda motor dari Kota Krui menyusuri jalan lintas
barat ke arah Bengkulu, sekitar satu setengah jam perjalanan Kami melihat papan
penunjuk jalan yang mengarah pada Pekon Lemong, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati
(meskipun sebenarnya ada kawan lokal yang sudah lebih dulu mengetahui lokasi
tersebut). Dengan sigap para pilot motor
membelokkan motornya ke arah kiri mengikuti papan petunjuk tersebut. Berselang
kurang dari setengah jam mengikuti jalan, dan yang pasti dengan bonus
pemandangan pantai yang terlihat di sepanjang jalan, sampailah di penghujung
jalan.
Catatan :
Ada pengerjaan pembuatan Tambak Udang di samping dari Tebing
Pantai Tanjung Jati, yang menurut saya itu akan berdampak kurang baik bagi
ekosistem sekitar. Apalagi potensi wisata tempat tersebut amat besar dengan
segala keindahanya. Semoga peran penting pemerintah disini bisa membawa Pesisir
Barat selalu terdepan sebagai tujuan wisata andalan Provinsi Lampung. Aamiin….
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Kalau ngomongin tentang Walur, banyak sejarah yang tercatat di tempat ini. Mulai dari saya awal menginjakkan kaki di Krui yang gak bisa sama...
-
Sepakat Jam 07.00, Berangkat jam 08.30 Letusan Krakatau, kalau berpatokan pada sejarah tahun 1883 pasti akan membuat semua orang takut...
-
Gerhana Bulan berdurasi terpanjang di abad 21 ini, 103 menit lamanya. Yeah, informasi yang sudah menyebar dari berita online maupun media ...























