Waktunya berfestival ria, kali ini saya berkesempatan
nyambangin salah satu dari 100 Calender Of Event Kementerian Pariwisata yang
ada di Sumatera Bagian Atas. Festival Bono Surfing 2018, yang bakal digelar
selama tiga hari oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Riau, , 22-24 September
2018. Sebagai seorang peselancar amatiran yang baru bisa berdiri udah senengnya
minta ampun, bisa menyaksikan langsung fenomena langka yang berkaitan dengan surfing ini bakal jadi
pengalaman yang sangat luar biasa.
Bono Surfing, fenomena alam berupa gelombang yang terbentuk
dari arus air pasang laut yang bertemu dengan
muara yang lebar, ditambah dengan angin dan tebing di sisi kanan kirinya,
terciptalah ombak yang cukup tinggi. Dengan tinggi ombak bisa mencapai 6 meter,
memanjang sekitar 300 meter dengan kecepatan 40 kilometer per jam, menjadi tantangan dan data tarik
tersendiri bagi para peselancar dari
seluruh dunia, terlebih lagi ini bukan ombak di laut. Fenomena Bono berada di Sungai Kampar, Teluk
Meranti Kabupaten Pelalawan, sekitar perjalanan 6 sampai 7 jam dari Pekan Baru.
![]() |
| Senyum dikit, cekrek !!! |
Kamis subuh, 22 November 2018, musti bener-bener bangun nyubuh,
karena kedapetan pesawat ke Jakarta pagi buta pukul 06.30 WIB dan jarak Bandar
Lampung ke Bandara memakan waktu hampir sejam. Udah buru-buru nih buka mata
dari kemoloran untuk ngejer biar gak ketinggalan Pesawat, ehhh ternyata delay
jua yang didapat. Yahhhh, biasa si singa terbang ada beberapa kendala yang
harus dilewati, demi keselamatan bersama tak apalah nunggu-nunggu bentar kan.
Akhirnya di jam delapan pesawat baru lepas landas dan mendarat di Bandara Soeta
sekitar jam sembilan. Ketemu dengan rombongan lain, bang Fery, Rizal dan Bang
Rizky Polii, yang ternyata reseh cuma liatin doang waktu saya lewat tanpa nyapa
dan manggil. Ketambahan abang Oeday sang forwapar, rombongan lengkap lanjut
terbang ke Pekan Baru dan mendarat sekitar jam satu siang dan disambut Bang
Joko dan Dewi dari Genpi Lokal. Di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru,
kami masih nunggu satu orang lagi, Abang Jalu si Korlap yang terbang langsung
dari Jogjakarta, setelah terkumpul perjalanan kami disambung dengan jalur darat
menuju Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Tiba di Pangkalan Kerinci,
mencari tempat menginap untuk beristirahat mempersiapkan fisik kegiatan hari
esok, tak lupa makan malam dulu dong biar gak oleng.
Jumat, 23 November 2018, selepas sarapan kami sudah ditunggu
oleh Kadisbudparpora Kabupaten Pelalawan untuk ngobrol ringan sambil ngopi di
salah satu kedai kopi yang ada di Pangkalan Kerinci. Sambutan senyum ramah saat kami sampai dan langsung dengan tawaran
suguhan kopi mengawali obrolan. Kami yang minim informasi tentang acara
Festival Bono Surfing, banyak-banyak tanya ngalor ngidul tentang teknis acara
guna pemaksimalan pengambilan konten acara. Pak Kadis juga menyampaikan
harapan-harapannya tentang kelanjutan Bono Surfing yang menjadi andalan
pariwisata Kabupaten Pelalawan. Beliau berkeinginan Bono Surfing jadi salah
satu destinasi wisata unggulan yang bisa mendatangkan para peselancar lokal
maupun luar negeri, bahkan lebih jauh lagi bisa mengadakan kontes surfing tingkat
international yang sudah dilaksanakan di Mentawai, Bali dan yang tempat lain,
yang kemudian diharapkan bisa mendukung perekonomian, khususnya di sekitar
Sungai Kampar Teluk Meranti, Pelalawan.
Selepas ngobrol bareng Pak Kadis, rombongan Kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak
dan berjum'at. Sorenya, dengan rekomendasi dari google, kami sepakat untuk
mengunjungi destinasi baru yang sepertinya sedang naik daun di dunia
peronlinenan, Danau Tajwid Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Sampe disana
ternyata sudah kepasang plang tulisan informasi kalau jalur menuju danau
kebanjiran. Akhirnya kami maksimalkan waktu untuk jeprat jepret, ambil foto dan
video tipis d bawah jembatan di dekat jalan menuju Danau Tajwid, beberapa
aktifitas warga dan landscape dari Sungai Kampar ketangkep kamera. DIrasa
cukup, lanjut dah menuju venue acara Pertunjukan Seni dan Budaya malam nanti,
meskipun masih sore dan acara dijadwal jam delapan malem. Sampai di tempat
acara lanjut ngopi-ngopi lagi sambil nyemil dan pesen jagung bakar, serta
disambut oleh Genpi Pelalawan dan akhirnya ngobrol becanda.
Waktunya pertunjukan seni dan budaya Festival Bono Surfing
dimulai, yang juga dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Industri
dan Pengembangan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pembukaan, sambutan
dan akhirnya pertunjukan awal Tari Bono ditampilkan. Tari yang menggambarkan
suasana suka ria dari para peselancar yang sedang menari-nari di atas ombak
langka yang tercipta di Sungai, yang bahkan bisa sampai berpuluh kilometer
tanpa putus. Dilanjut dengan pertunjukan
Silat Api yang menjadi atraksi khas budaya Riau, bersilat sambil bermain
api yang hanya dilakukan oleh para professional warga lokal, dan ditutup dengan
musik akustik dari para anggota Genpi Pelalawan. Selesai pertunjukan seni
budaya sekitar jam sebelasan, sang Korlap Mas Jalu mengarahkan rombongan untuk kembali
ke hotel, beristirahat ria. Karena jam dua dini hari Kami harus ngotewe menuju
Teluk Meranti tempat puncak Festival Bono Surfing dimana The Seven Ghosts
berada, untuk mendapatkan suasana pagi disana.
Jam dua malem bersiap menuju Teluk Meranti, menghabiskan
waktu sekitar empat jam untuk tiba ditujuan dengan kondisi beberapa bagian jalan cukup bergelombang membuat kesan
perjalanan semakin berwarna. Sesuai perkiraan, sampe disana sekitar jam enam
pagi dan zonk dong karena cuaca mendung, padahal harapan awal bisa dapet
sunrise yang cakep dari balik sungai kan. Yes, cuaca kita gak bisa prediksi,
semoga semakin siang semakin cerah. Ambil dan video beberapa di sekitaran
dermaga Teluk Meranti, lanjut nyari sarapan pagi karena perut udah mulai
keroncongan. Untung di deket Dermaga ada warung makan di tepian sungai, lumayan
bisa pesen lontong sayur dan kopi tentunya. Selang beberapa waktu, terlihat hilir mudik para peselancar lokal
menuju dermaga, sesekali nampak juga bule-bule berambut pirang yang sudah pasti
peselancar dunia yang seperti para partisipan Bono Surfing siang ini.


Sekitar jam sembilan, para peselancara lokal dan para
peselancar “bule” sudah terlihat berkumpul di dermaga, bersiap untuk diangkut
menuju spot ombak Bono muncul menggunakan perahu cepat. Rombongan tamu undangan
dan penonton masyarakat umum disediakan kapal lebih besar, kami para pemburu
foto dan video diarahkan menggunakan speedboat guna mengimbangi kecepatan Bono
dan memaksimalkan konten yang didapat. Saya fikir awalnya spot Bono ya gak
begitu jauh dari dermaga Teluk Meranti, ternyata perahu cepat kami saja melaju
hampir sekitar satu jam barulah sampe di tempat sang Bono muncul. Di perjalanan
menyusuri Sungai Kampar yang ternyata sangat luas, sesekali bang Rizal Polii
tengak tengok ke pinggiran sungai. Iseng-iseng nanya, ternyata sesuai dengan
firasatku, jawabannya “kalo-kalo ngeliat
buaya lagi berjemur”. Sambil tetep waspada sih sebenernya, karena sungai seluas
itu dan pertamuan langsung dengan laut, gak menutup kemungkinan adanya buaya
muara, kalo buaya darat ya di perahu kami aja udah banyak. “Kita tunggu disini
Bononya”, kata sang pilot perahu, sambil menyandarkan kapal di tepian sungai. Sambil
nunggu si Bono dateng, karena kelupaan juga kami bawa kopi buat sruput-sruput di kapal kan,
Mas Jalu langsung ngide gara-gara liat air sungai yang warnanya coklat pekat,
“Langsung ciduk aja dari samping itu, tambahin gula dikit, ngopi dahhhhh”.
Yahhh, emang mirip-mirip bgt sih warnanya sama produk kopi sachet yang namanya
mirip artis Tora Sudiro.
Rombongan lagi pada
nguap-nguap, ngantuk karena gak bawa kopi, dari kejauhan terlihat jetsky menuju
tempat kami neduh dan sang joki JetSky
berteriak “Bono Datang , Bono Datang !!!.”, yang membuat hati kami
deg-degan. Maklum, ini pertemuan pertama kami dengan si Bono, janjian ketemu
di Festival Bono Surfing 2018 inilah,
akankah jatuh cinta di pandangan pertama, hehehe. Beberapa detik kemudian,
terdengar dari kejauhan suara gemuruh dan disusul dengan penampakan gelombang besar
dengan tinggi sekitar 3-4 meter dan berbaris rapi tinggal berlapis tujuh ombak
mendekat ke arah kami. Waw, itukah Bono
yang kami tunggu-tunggu ???? Tanpa komando sang pilot mengarahkan perahu cepat
kami mendekati sang Bono. Salah satu bule, yang digonceng JetSky tepat di depan
ombak Bono, perlahan melompat ke air dan langsung mendayung papan selancarnya
dengan kuat untuk mendapatkan dorongan dari ombak, sampai tepat waktunya untuk
berdiri di atas ombak Bono, mulailah dia menari-nari dengan lincah. Kami sudah
siap dengan senjata masing-masing, habiskan pelucu kamera, abadikan semua
gerakan dan atraksi yang ada di depan mata. Peselancar pertama jatuh karena
kehilangan keseimbangan, disusul dengan peselancar berikutnya, bahkan di satu
waktu keduanya mengambil ombak bersama, sungguh tontonan yang luar biasa dan
langka.
Setelah beberapa waktu yang cukup lama, si Bono bercumbu
dengan peselancar luar negeri, sekarang saatnya para peselancar lokal bersiap
menungganginya. Terlihat mereka sudah berbaris rapi, menunggu si Bono
menghampiri. Padlle istilah mengayuh di atas papan selancar, mereka lakukan
bersama saat ombak Bono dating. Beberapa sudah berhasil berdiri, beberapa
lainnya masih asyik tiduran di atas papan sambil menunggu waktu tepat untuk
berdiri. Moment yang paling menarik adalah saat peselancar lokal dan luar
negeri, semua berdiri di atas papannya masing-masing, berjejer rapi dan saling
mempertunjukkan skilnya, tak luputlah semua momen dari jepretan kami. Sampai
tak terasa begitu jauh sapuan ombak Bono mendorong para peselancar sampai
akhirnya ombak semakin mengecil dan menghilang, ternyata sudah hampir sampai
kembali di Dermaga Teluk Meranti. Usai sudah sang Bono menghibur kami. Terima
kasih Bono, engkau indah dan menawan.
Tips bagi yang berkeinginan juga mengabadikan momen Bono
Surfing adalah, pilih sopir perahu yang benar-benar berpengalaman dan faham dengan karakteristik
pergerakan ombak Bono. Karena kejadian kami adalah ada saat momen dimana
seluruh sungai ditutupi oleh gelombang Bono, istilah mereka terkepung Bono.
Butuh skil tersendiri untuk keluar dari kepungan Bono tersebut, yaitu melawan,
dan melewatinya. Jika sang sopir tidak lihai, habislah kapal digulingkan oleh
si Bono. Itulah yang terjadi pada rombongan kami yang berbeda perahu. Sekian,
terima kasih untuk waktu membacanya….










