Selasa, 25 September 2018

BONO, Ombak Surfing Sungai Dari Air Pasang

Waktunya berfestival ria, kali ini saya berkesempatan nyambangin salah satu dari 100 Calender Of Event Kementerian Pariwisata yang ada di Sumatera Bagian Atas. Festival Bono Surfing 2018, yang bakal digelar selama tiga hari oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Riau, , 22-24 September 2018. Sebagai seorang peselancar amatiran yang baru bisa berdiri udah senengnya minta ampun, bisa menyaksikan langsung fenomena langka  yang berkaitan dengan surfing ini bakal jadi pengalaman yang sangat luar biasa.
Bono Surfing, fenomena alam berupa gelombang yang terbentuk dari arus air pasang laut yang bertemu  dengan muara yang lebar, ditambah dengan angin dan tebing di sisi kanan kirinya, terciptalah ombak yang cukup tinggi. Dengan tinggi ombak bisa mencapai 6 meter, memanjang sekitar 300 meter dengan kecepatan 40 kilometer  per jam, menjadi tantangan dan data tarik tersendiri bagi para  peselancar dari seluruh dunia, terlebih lagi ini bukan ombak di laut.  Fenomena Bono berada di Sungai Kampar, Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, sekitar perjalanan 6 sampai 7 jam dari Pekan Baru.
Senyum dikit, cekrek !!!

Kamis subuh, 22 November 2018, musti bener-bener bangun nyubuh, karena kedapetan pesawat ke Jakarta pagi buta pukul 06.30 WIB dan jarak Bandar Lampung ke Bandara memakan waktu hampir sejam. Udah buru-buru nih buka mata dari kemoloran untuk ngejer biar gak ketinggalan Pesawat, ehhh ternyata delay jua yang didapat. Yahhhh, biasa si singa terbang ada beberapa kendala yang harus dilewati, demi keselamatan bersama tak apalah nunggu-nunggu bentar kan. Akhirnya di jam delapan pesawat baru lepas landas dan mendarat di Bandara Soeta sekitar jam sembilan. Ketemu dengan rombongan lain, bang Fery, Rizal dan Bang Rizky Polii, yang ternyata reseh cuma liatin doang waktu saya lewat tanpa nyapa dan manggil. Ketambahan abang Oeday sang forwapar, rombongan lengkap lanjut terbang ke Pekan Baru dan mendarat sekitar jam satu siang dan disambut Bang Joko dan Dewi dari Genpi Lokal. Di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru, kami masih nunggu satu orang lagi, Abang Jalu si Korlap yang terbang langsung dari Jogjakarta, setelah terkumpul perjalanan kami disambung dengan jalur darat menuju Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Tiba di Pangkalan Kerinci, mencari tempat menginap untuk beristirahat mempersiapkan fisik kegiatan hari esok, tak lupa makan malam dulu dong biar gak oleng.
Jumat, 23 November 2018, selepas sarapan kami sudah ditunggu oleh Kadisbudparpora Kabupaten Pelalawan untuk ngobrol ringan sambil ngopi di salah satu kedai kopi yang ada di Pangkalan Kerinci. Sambutan senyum  ramah saat kami sampai dan langsung dengan tawaran suguhan kopi mengawali obrolan. Kami yang minim informasi tentang acara Festival Bono Surfing, banyak-banyak tanya ngalor ngidul tentang teknis acara guna pemaksimalan pengambilan konten acara. Pak Kadis juga menyampaikan harapan-harapannya tentang kelanjutan Bono Surfing yang menjadi andalan pariwisata Kabupaten Pelalawan. Beliau berkeinginan Bono Surfing jadi salah satu destinasi wisata unggulan yang bisa mendatangkan para peselancar lokal maupun luar negeri, bahkan lebih jauh lagi bisa mengadakan kontes surfing tingkat international yang sudah dilaksanakan di Mentawai, Bali dan yang tempat lain, yang kemudian diharapkan bisa mendukung perekonomian, khususnya di sekitar Sungai Kampar Teluk Meranti, Pelalawan.


Selepas ngobrol bareng Pak Kadis, rombongan Kami  kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak dan berjum'at. Sorenya, dengan rekomendasi dari google, kami sepakat untuk mengunjungi destinasi baru yang sepertinya sedang naik daun di dunia peronlinenan, Danau Tajwid Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Sampe disana ternyata sudah kepasang plang tulisan informasi kalau jalur menuju danau kebanjiran. Akhirnya kami maksimalkan waktu untuk jeprat jepret, ambil foto dan video tipis d bawah jembatan di dekat jalan menuju Danau Tajwid, beberapa aktifitas warga dan landscape dari Sungai Kampar ketangkep kamera. DIrasa cukup, lanjut dah menuju venue acara Pertunjukan Seni dan Budaya malam nanti, meskipun masih sore dan acara dijadwal jam delapan malem. Sampai di tempat acara lanjut ngopi-ngopi lagi sambil nyemil dan pesen jagung bakar, serta disambut oleh Genpi Pelalawan dan akhirnya ngobrol becanda.


Waktunya pertunjukan seni dan budaya Festival Bono Surfing dimulai, yang juga dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Pengembangan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pembukaan, sambutan dan akhirnya pertunjukan awal Tari Bono ditampilkan. Tari yang menggambarkan suasana suka ria dari para peselancar yang sedang menari-nari di atas ombak langka yang tercipta di Sungai, yang bahkan bisa sampai berpuluh kilometer tanpa putus. Dilanjut dengan pertunjukan  Silat Api yang menjadi atraksi khas budaya Riau, bersilat sambil bermain api yang hanya dilakukan oleh para professional warga lokal, dan ditutup dengan musik akustik dari para anggota Genpi Pelalawan. Selesai pertunjukan seni budaya sekitar jam sebelasan, sang Korlap Mas Jalu mengarahkan rombongan untuk kembali ke hotel, beristirahat ria. Karena jam dua dini hari Kami harus ngotewe menuju Teluk Meranti tempat puncak Festival Bono Surfing dimana The Seven Ghosts berada, untuk mendapatkan suasana pagi disana.




Jam dua malem bersiap menuju Teluk Meranti, menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk tiba ditujuan dengan kondisi beberapa  bagian jalan cukup bergelombang membuat kesan perjalanan semakin berwarna. Sesuai perkiraan, sampe disana sekitar jam enam pagi dan zonk dong karena cuaca mendung, padahal harapan awal bisa dapet sunrise yang cakep dari balik sungai kan. Yes, cuaca kita gak bisa prediksi, semoga semakin siang semakin cerah. Ambil dan video beberapa di sekitaran dermaga Teluk Meranti, lanjut nyari sarapan pagi karena perut udah mulai keroncongan. Untung di deket Dermaga ada warung makan di tepian sungai, lumayan bisa pesen lontong sayur dan kopi tentunya. Selang beberapa waktu,  terlihat hilir mudik para peselancar lokal menuju dermaga, sesekali nampak juga bule-bule berambut pirang yang sudah pasti peselancar dunia yang seperti para partisipan Bono Surfing siang ini.



Sekitar jam sembilan, para peselancara lokal dan para peselancar “bule” sudah terlihat berkumpul di dermaga, bersiap untuk diangkut menuju spot ombak Bono muncul menggunakan perahu cepat. Rombongan tamu undangan dan penonton masyarakat umum disediakan kapal lebih besar, kami para pemburu foto dan video diarahkan menggunakan speedboat guna mengimbangi kecepatan Bono dan memaksimalkan konten yang didapat. Saya fikir awalnya spot Bono ya gak begitu jauh dari dermaga Teluk Meranti, ternyata perahu cepat kami saja melaju hampir sekitar satu jam barulah sampe di tempat sang Bono muncul. Di perjalanan menyusuri Sungai Kampar yang ternyata sangat luas, sesekali bang Rizal Polii tengak tengok ke pinggiran sungai. Iseng-iseng nanya, ternyata sesuai dengan firasatku, jawabannya “kalo-kalo  ngeliat buaya lagi berjemur”. Sambil tetep waspada sih sebenernya, karena sungai seluas itu dan pertamuan langsung dengan laut, gak menutup kemungkinan adanya buaya muara, kalo buaya darat ya di perahu kami aja udah banyak. “Kita tunggu disini Bononya”, kata sang pilot perahu, sambil menyandarkan kapal di tepian sungai. Sambil nunggu si Bono dateng, karena kelupaan juga kami  bawa kopi buat sruput-sruput di kapal kan, Mas Jalu langsung ngide gara-gara liat air sungai yang warnanya coklat pekat, “Langsung ciduk aja dari samping itu, tambahin gula dikit, ngopi dahhhhh”. Yahhh, emang mirip-mirip bgt sih warnanya sama produk kopi sachet yang namanya mirip artis Tora Sudiro.

Rombongan lagi  pada nguap-nguap, ngantuk karena gak bawa kopi, dari kejauhan terlihat jetsky menuju tempat kami neduh dan sang joki JetSky  berteriak “Bono Datang , Bono Datang !!!.”, yang membuat hati kami deg-degan. Maklum, ini pertemuan pertama kami dengan si Bono, janjian ketemu di  Festival Bono Surfing 2018 inilah, akankah jatuh cinta di pandangan pertama, hehehe. Beberapa detik kemudian, terdengar dari kejauhan suara gemuruh dan disusul dengan penampakan gelombang besar dengan tinggi sekitar 3-4 meter dan berbaris rapi tinggal berlapis tujuh ombak mendekat ke arah kami.  Waw, itukah Bono yang kami tunggu-tunggu ???? Tanpa komando sang pilot mengarahkan perahu cepat kami mendekati sang Bono. Salah satu bule, yang digonceng JetSky tepat di depan ombak Bono, perlahan melompat ke air dan langsung mendayung papan selancarnya dengan kuat untuk mendapatkan dorongan dari ombak, sampai tepat waktunya untuk berdiri di atas ombak Bono, mulailah dia menari-nari dengan lincah. Kami sudah siap dengan senjata masing-masing, habiskan pelucu kamera, abadikan semua gerakan dan atraksi yang ada di depan mata. Peselancar pertama jatuh karena kehilangan keseimbangan, disusul dengan peselancar berikutnya, bahkan di satu waktu keduanya mengambil ombak bersama, sungguh tontonan yang luar biasa dan langka.
Setelah beberapa waktu yang cukup lama, si Bono bercumbu dengan peselancar luar negeri, sekarang saatnya para peselancar lokal bersiap menungganginya. Terlihat mereka sudah berbaris rapi, menunggu si Bono menghampiri. Padlle istilah mengayuh di atas papan selancar, mereka lakukan bersama saat ombak Bono dating. Beberapa sudah berhasil berdiri, beberapa lainnya masih asyik tiduran di atas papan sambil menunggu waktu tepat untuk berdiri. Moment yang paling menarik adalah saat peselancar lokal dan luar negeri, semua berdiri di atas papannya masing-masing, berjejer rapi dan saling mempertunjukkan skilnya, tak luputlah semua momen dari jepretan kami. Sampai tak terasa begitu jauh sapuan ombak Bono mendorong para peselancar sampai akhirnya ombak semakin mengecil dan menghilang, ternyata sudah hampir sampai kembali di Dermaga Teluk Meranti. Usai sudah sang Bono menghibur kami. Terima kasih Bono, engkau indah dan menawan.
Tips bagi yang berkeinginan juga mengabadikan momen Bono Surfing adalah, pilih sopir perahu yang benar-benar  berpengalaman dan faham dengan karakteristik pergerakan ombak Bono. Karena kejadian kami adalah ada saat momen dimana seluruh sungai ditutupi oleh gelombang Bono, istilah mereka terkepung Bono. Butuh skil tersendiri untuk keluar dari kepungan Bono tersebut, yaitu melawan, dan melewatinya. Jika sang sopir tidak lihai, habislah kapal digulingkan oleh si Bono. Itulah yang terjadi pada rombongan kami yang berbeda perahu. Sekian, terima kasih untuk waktu membacanya….