Gerhana Bulan berdurasi terpanjang di
abad 21 ini, 103 menit lamanya. Yeah, informasi yang sudah menyebar dari berita
online maupun media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook dan mungkin
saja juga Friendster yang sudah entah dimana rimbanya sekarang. Peristiwa yang
memiliki kemiripan dengan gerhana yang terjadi di tahun 2000 dan bakal terulang
di tahun 2036 mendatang, benar saja banyak yang bilang malahini peristiwa langka dan sangat sayang untuk
dilewatkan.
Amunisi menemani hunting gerhana bulan
Sabtu, 28 Juli 2018 dini hari bakal jadi
malam yang panjang, menunggu momen perubahan dari purnama menjadi gerhana. Dan
sudahsaya putuskan untuk membunuh waktu
di Anjung Katoeng (anjung adalah istilah lain dari rumah), kediaman Cik To
ketua Kruimotret (Komunitas Fotografi di Krui, Pesisir Barat). Amunisi
tambahan, seperti durian, kopi Liwa dan ubi yang siap dibakar sudah disiapkan
untuk menemani amunisi utama, yaitu kamera, lensa tele dan tripod.
Kopdur alias kopi duren, biar mata melhek
Terkumpul empat personil KruiMotret, Cik
To sang ketua, saya, Deta dan Agung yang sudah siap sedia di Anjung Katoeng,
meskipun yang motret dan siap senjata
hanya saya dan Cik To. Sedangkan
kedua personil lain selalu asik
masing-masing dengan game yang sedang menjangkit seluruh umat manusia. Pukul 23.00
WIB, saya mencoba melakukan pamanasan dengan memotret bulan yang memang sedang
bulat-bulatnya kayak tahu yang digoreng dadakan. Langit sepertinya sedikit
berawan, jadi harus menunggu waktu yang tepat untuk mengambil gambar saat bulan
tidak terhalangi awan sambil terus berharap langit akan cerah nanti saat
gerhana bulan mulai terjadi.
Memfoto bulan butuh lensa dengan Focal
Length yang panjang, tidak akan maksimal jika memakai lensa kit atau standar.
Lensa dengan FL 70-300 yang dimiliki, saya rasa cukup lah meskipun nantinya
butuh cropping lagi, setidaknya lumayan untuk menangkap guratan-guratan jerawat
sang rembulan. Dan yang pasti butuh tripod untuk menstabilkan kamera saat
mengambil gambar, karena terkadang memaksakan setingan denganspeed rendah, terlebih jika langit berawan
dan menghalangi bulan. Jika kondisi cerah dan memakai tripod, setingan ISO 100,
F 8-10, speed 100-200 akan mendapatkan foto bulan yang sempurna.
Sang Cikto memainkan kameranya
Kopi duren sudah ludes dan sedang
diprosesperut, sang ubi sedang dalam
proses pembakaran, dini hari mulai tiba dengan ditemeni suara musik “poki-poki”
yang selalu berhasil menggoyangkan jari-jemari terdengar dari kejauhan
(biasanya ada yang sedang berpesta/acara). Sesuai dengan info dari BMKG, pukul
00.13 WIB gerhana bulandimulai. Dan
benar saja, sang rembulan mulai "termakan" sedikit demi sedikit,
membuat sayaDan Cik To sibuk bercumbu
dengan kamera untuk mencari setingan kamera yang tepat. Dengan terus mengikuti
pergerakan bulan menuju ke barat, layaknya sang kera sakti mencari kitab suci,
hingga di Pukul 01.24 WIB fase U1 dimana Gerhana Bulan Sebagian tiba.
Untung ada ubi yang telah menghitam
karena bara api, menemani detik-detik datangnya Gerhana Total Mulai di pukul
02.30 WIB yang disebut fase U2 (yah meskipun dengan resiko produksi angin
belakang meningkat). Di fase ini membutuhkan kerja keras dari kamera dan lensa,
karena meskipun bisa dilihat dengan mata telanjang tak berpakaian, namun dengan
kondisi mata yang minus ditambah fungsi liveview layar kamera tidak sanggup
menangkap cahaya bulan gerhana, itu amat sangat menguras tenaga dan fikiran
(berasa ujian skripsi, padahal lulusan DIII).
Pukul 03.15 WIB awan gelap menyelimuti
langit Krui, Pesisir Barat, sudah menunggu beberapa saat dengan harapan akan
cerah kembali, namun tetap saja sang langit menggajak, Dan seketikamematahkan semangat kami untuk memotret,
padahal Puncak Gerhana di pukul 03.22 WIB. Seperti biasa, alam tidak bisa
dilawan namuntetap bersyukur sudah bisa
mengabadikan dan menjadi saksi hidup terjadinya FerganaBulan Total yang menjadi fenomena langka ini,
yang bisa menjadi cerita anak cucu kelak. Jangan lupa sholat khusyuf dan selalu
berdoa agar dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya, aamiin ya robbal
‘alamin.
Letusan Krakatau, kalau berpatokan
pada sejarah tahun 1883 pasti akan membuat semua orang takut dankhawatir. Letusan besar yang terdengar hingga
3.000 mil jauhnya, menewaskan setidaknya 36 ribujiwa, hingga menjadi letusan gunung api
paling dahsyat dalam sejarah. Kondisi berbeda untuksaat ini, Gunung Anak Krakatau yang tingginya
300 meteran, beberapa minggu ini aktivitasnya mengalami kenaikan yang menjadi
statuswaspada, sudah ada larangan untuk
mendekatinya namun tetap aman untuk radius 1 kilometer.
Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau
menjadi panggilan tersendiri bagi om Budhi Marta Utama @paralampung, fotografer
seniordi Lampung, yang sudah puluhan
kali mengunjungi gunung tersebut dan beberapa kali mengabadikan fenomena
erupsinya. Dimulai dari ajakan beliau di grup WhatApps @GenpiLampunguntuk sharecost Hunting Lava Pijar Gunung
Anak Krakatau, tapi hanyabeberapa
anggota saja yang berminat. Kalau kata bang Aries @riez_aries, hasil seleksi
berdasarkan ketampanan dan kemampuan bertahan hidup akhirnya terpilih tiga
peserta dari grup Genpi Lampung, Om Budhi @paralampung, Bang Aries @riez_aries
dan saya Rino @akunrino. Untungnya ada tambahan peserta dari luar grup, yaitu
om Dedi @dediacad, bang Ferdi @ferdi_awed sang Pewarta Foto, Ardy @ardynar kawan
bang Ferdi dan satu bule nyasar dari Prancis si Pier.
Rabu, 18 Juli 2018 jam 7 pagi Kami
sepakat untuk berkumpul di sekitar Lapangan Saburai Bandar Lampung. Seperti
biasa, keterlambatan datang sudah jadi pemakluman dan penundaan keberangkatan
juga sudah jadi hal biasa. Terlebih dua sejoli bang Ferdi dan Ardy yang agak
lumayan lama Kami tunggu, nyasar di kota sendiri atau malah memang kebiasaan
dari jaman sekolah hobi terlambat masuk kelas.
Setelah pasukan terkumpul di pukul
08.30 WIB, kami langsung tancap gas menuju Kota Kalianda, Lampung Selatan.
Sepanjang jalan diisi dengan obrolan perkenalan, bercanda dan tegur sapa,
karena memang beberapa masih belum saling mengenal, terlebih si Pier sang bule
dari Perancis. Sekitar lebih dari satu jam sampailah kami di Kota Kalianda,
singgah sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut karena ada anggota
tim yang belum sarapan. Beberapa sarapan, yang lain ngopi sambil menikmati
gorengan,. Di lain sudut, om Budhi menawari Pier untuk mencoba makanan yang
pasti belum pernah dia coba, tapi dia langsung berkomentar “ENAK SEKALI” dengan
logat bulenya. Karedok, yahh makanan Indonesia banget, menjadi salah satu
makanan khas Sunda berisi sayuran mentah yang dilumuri bumbu kacang sebagai
sausnya. Setelah kenyang, kami segera
menuju Dermaga Canti, karena sudah ada informasi dari om Budi kalau bang Candra
sang pilot Kapal sudah standby di Dermaga.
Terlihat kegiatan warga di Dermaga Canti, Lampung Selatan
Perjalanan laut dimulai
Tak sampai 30 setengah jam, kami
sampai di Dermaga Canti, dari sini lah nanti perjalanan laut menuju Gunung Anak
Krakatau dimulai. Bang Candra dan beberapa awak kapal langsung menyambut kami,
dan bergegas membawa segala perlengkapan ke kapal.Tambahan logistik untuk bertahan hidup nanti
(padahal cuma mie instan dan kopi), sudah disempatkan berbelanja di minimarket
depan dermaga dan nasi bungkus masakan ibu-ibu warung makan sekitar dermaga sebagai
stok makan siang. Di pukul 11.00 WIB kami memulai berlayar mengarungi Selat
Sunda menuju tengah samudera. Baru berselang beberapa menit kapal berlayar,
bang Aries diam-diam membuka nasi bungkusnya dan nampak sekali nasi kombinasi
sayur dan ikan dipindah perlahan ke perutnya, yang berujung menular ke saya dan
yang lain.Sejam lebih perjalanan,
terlihat Dermaga Pulau Sebesi yang akhirnya kapal menyandarkan hatinya sejenak
disana. Ada beberapa kebutuhan pokok yang di bawa awak kapal yang harus
didistribusikan ke Pulau Sebesi tersebut. Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk
yang biasanya menjadi tempat singgah dan bermalam bagi para wisatawan yang
melakukan trip ke Gunung Anak Krakatau. Saya menyempatkan waktu untuk
menerbangkan si Mavic, mengambil footage secukupnya.
Pulau Sebesi dari ketinggian, terlihat dermaga baru yang ada disana
Abu Krakatau menyapa
Perjalanan berlanjut menuju
target, satu jam setengah waktu yang dibutuhkan dari Pulau Sebesi ke Gunung
Anak Krakatau, istirahat sejenak jadilah. Tak sempat pejamkan mata terlalu
lama, sudah terdengar teriakan “Krakatau, Krakatau”. Yes, dari kejauhan
terlihat penampakan Gunung Anak Krakatau membuat semua keluar dari dalam kapal
berpindah ke atas dan depan kapal untuk mencari spot nyaman memotret. Cekrek….
Cekrek …. Cekrek….. suara shooter sudah mulai bersahutan. Sesekali juga
terlihat segerombolan asap tebal keluar dari puncak Gunung Anak Krakatau, itu
erupsinya. Semakin mendekat ke Krakatau, semakin terasa penglihatan mulai
terganggu, ternyata debu erupsinya mengarah ke kapal kami. Untung sudah bersiap
dengan kacamata andi badai, yang tak tertolong adalah baju putih “Pesona
Indonesia” yang saya pakai, sudah berubah menjadi abu-abu. Om Budhi meminta sang
pilot untuk menggerakkan kapal mengitari Gunung Anak Krakatau, namun tetap
dalam radius aman.
Sapaan debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK)
Letusan demi letusan terjadi,
suara seperti gemuruh petir menyapa telinga. Disusul gumpalan asap dan lontaran
batu terlihat dari kejauhan.Tak
henti-hentinya kami mengabadikan momen itu, foto dan video, dari kamera maupun
handphone, semua merekam kejadian luar biasa yang ada di depan mata. Sesekali
Pier dinobatkan sebagai model of the day, untuk inframe dan sebagai pemanis
dalam komposisi foto.Nampak juga para
awak kapal menyempatkan diri berselfie ria, ternyata mereka juga narsis.
Pulau Rakata, Spot Hunting Lava
Pijar Krakatau
Setelah puas dengan belasan
telusan, tepat pukul 14.30 WIB kapal mengarah ke sebuah pulau besar tepat di
seberang Gunung Anak Krakatau. Ada tiga pulau yang ada di sekitar Gunung Anak
Krakatau, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata yang berjarak
sekitar 4 KM dari Gunung Anak Krakatau, radius sangat aman untuk status waspada
saat ini dan menjadi tempat singgah sementara dan sebagai spot untuk hunting
lava pijarnya.Pulau berpasir hitam dan
bersemak belukar, terdapat sedikitsisi
pulau spot untuk kami buka tenda. Pier dan om Dedi membangun tendanya, yang
lain sibuk mencari batang pohon yang kuat untuk menambatkan hammock sebagai
tempat bergelantungan memejamkan mata malam nanti. Berselang waktu, yang lain
sibuk menentukan spot menancapkan tripodnya, saya dengan semangat memasak air
putih untuk menyeduh kopi, ngopi ngapak ngopi !!!!!
Bentang pantai di Pulau Rakata, radius aman untuk memandang Gunung Anak Krakatau (GAK)
Petunjuk om Budhi, lava pijar akan
terlihat dan saat peralihan dari terang ke gelap, artinya ba’da magrib baru
akan nampak. Dan lagi-lagi saya menyempatkan menerbangkan si Capung Rekam, guna
mendapatkan aerial view Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan,
setelah itu baru mencari spot untuk memotret.
Semua sudah pada tempatnya
masing-masing, Bang Aries, Om Dedi dan Pier memilih sayap kiri, saya da nom
Budhi gelandang tengah, sedangkan Bang Ferdi dan Ardy di posisi sayap kanan.
Lengkap sudah strategi menyerang kami, tanpa memikirkan pertahanan. Sedikit
tegukan kopi hangat dari gelas darurat potongan botol air mineral, menemani
petang menunggu detik-detik letusan terjadi. Pengaturan manual kamera, dengan
ISO rendah, bukan lensa di pertengahan, untuk mengusahakan speed rendah, agar
pergerakan lontaran lava pijar bisa terekam di foto. Senja indah mengiringi
hari menyambut malam, kepulan asap menampakkan diri dengan diiringi suara
dentuman letusan yang besar. Dengan sigap, semua memencet tombol shooter
kameranya masing-masing, masa iya kamera tetangga. Setelah sekian detik
menangkap gambar dan akhirnya terlihat di layar kamera. Teriakan demi terikan
terdengar, suara kegembiraan telah bisa mengabadikan lava pijar dalam sebuah
foto, yang ternyata indah saat hari gelap. Berkali-kali letusan, berkali-kali
pula kamera menangkapnya. Sampai akhirnya suasana sudah terlalu gelap dan sang
Gunung Anak Krakatau tak terlihat lagi bentuk tubuhnya, yang artinya sudah
tidak maksimal untuk pengambilan foto.
Api Unggun Pantai VS Kembang
Api Krakatau
Yahhh selanjutnya, waktu
dihabiskan untuk menyantap logistik yang sudah di bawa jauh-jauh dari Pulau
Sumatera. Mie instan bersama pendamping setianya sang telur mulai dimasak, dan
tanpa menunggu waktu lama segera disantap dan habis tanpa bekas sedikitpun.
Tambahan nutrisi dari roti dan buah-buahan yang di bawa bang Ferdi, katanya sih
panen di rumah.
Setelah perut penuh terisi, lanjut
semua berpencar mencari kayu kering dan sampah-sampah untuk dibakar dan dibuat
api unggun. Selain untuk menghangatkan tubuh di malam yang angin lumayan
kencang, nyamuk juga kabur berlarian dan tak berani mendekat ke rombongan kami.
Api unggun, kopi hangat, petikan nada dari guitarlele dan canda tawa disertai
suara petir menyambar sembari melihat langsung semburan lava pijar yang seperti
kembang api besar dari puncak Gunung Krakatau, semua terasa luar biasa dan
menjadi hal yang memuaskan jiwa.Larut,
dan malam semakin larut. Satu persatu memustuskan untuk kembali ke kamar
masing-masing (tenda dan hammock), untuk sekedar memejamkan mata dan memulihkan
tenaga, dengan harapan esok hari sebelum subuh akan mendapatkan momen seperti
sore tadi.
Berapi unggun ria, mengusir pasukan nyamuk dan hawa dingin
Belum sampai waktu subuh, masih
sekitar pukul satu dini hari. Antara sadar atau masih tertidur terdengar suara
letusan erupsi yang cukup besar, dan benar-benar membuat hati deg-degan.
Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi, letusan sampai di lokasi kami
beristirahat. Bahkan batu-batu lava pijarnya terasa berjatuhan di sekitar kami.
Alhamdulillah dan bersyukur itu hanya hayalan bawah sadar, namun menjadi
pengalaman dan cerita tersendiri yang tak pernah bisa dilupakan.
Pagi yang mencekam !!!
Setelah subuh, semua sudah bersiap
dan berhasil mengabadikan beberapa letusan, hingga pagi dan sinar matahari
mulai menerangi. Beralih kembali memproses logistik untuk mengisi sela-sela
perut yang sudah mulai longgar kembali. Mungkin karena kelebihan muatan, bang
Ferdi sudah mulai gelisah dan ternyata kontraksi terjadi dan perut mulai
memberontak. DI Pulau tak berpenghuni seperti ini mana mungkin ada WC
Umum,kondisi seperti itu yang membuat
suasana sangat mencekam. Akhirnya dengan gagah perkasa dia memberanikan diri
menuju ke ujung pulau guna bingkar muatan. Setelah bang Ferdi tuntas,dan dating dengan raut muka riang gembira,
dan tanpa dinyana menular ke saya, mules juga ternyata perut.Yaps,
saya putuskan untuk mengikuti jejak beliau yang lebih senior, namun tanpa
mengusik markasnya yang sudah diamankan dari serangan musuh.
Hasil Jepretan Letusan Gunung Anak Krakatau
Sayonara
Akhirnya waktu untuk pulang dan
kembali ke peradabannya masing-masing. Terima kasih untuk Om Budhi Marta Utama
yang telah membawa saya dan teman-teman yang lain menyaksikan fenomena alam
yang sangat mempesona dam berhasil mengabadikannya. Mungkin ini akan menjadi pengalaman
yang tidak akan pernah terlupakan, sampai kapanpun. Semoga alam selalu
bersabahat, dan semoga kita selalu bisa menikmati keindahannya. Terima kasih…
Postingan om Budhi Marta Utama alias @paralampung tanggal 12
Maret 2016 di akun Instagramnya mampu membuat saya terkagum dan "kepo". Sesepuh
fotografer di Lampung ini mengunggah foto tebing megah di pinggir pantai dengan
caption "The Hidden Paradise" dan
tagar #pesisirbaratsumatera #lampung. Jelas sekali kalau foto tersebut diambil dari ketinggian, sudah
pasti om Budhi memotret sambil terbang menggunakan paramotornya. Jauh hari
sebelumnya sudah pernah melihat foto serupa yang diupload beliau di akun
Facebooknya, dan sempat saya komentar mempertanyakan lokasi tempat tersebut,
dan jawabannya cuma sebatas "ada dech".
Sungguh mati aku penasaran, sampai mati pun akan
kuperjuangkan, kata penyanyi dangdut. hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu
mulai viral di sosial media terutama Instagram. Foto dari beberapa akun
instagram di lokasi yang serupa dan tertulis Pantai Tanjung Jati, yang menjadi
salah satu pekon/desa di Kecamatan Lemong, Pesisir Barat. Minggu, 1 Juli 2018,
saya dan beberapa teman yang ada di Krui, langsung meluncur menuju lokasi yang
menjadi incaran saya sejak lama.
Dengan bersepeda motor dari Kota Krui menyusuri jalan lintas
barat ke arah Bengkulu, sekitar satu setengah jam perjalanan Kami melihat papan
penunjuk jalan yang mengarah pada Pekon Lemong, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati
(meskipun sebenarnya ada kawan lokal yang sudah lebih dulu mengetahui lokasi
tersebut).Dengan sigap para pilot motor
membelokkan motornya ke arah kiri mengikuti papan petunjuk tersebut. Berselang
kurang dari setengah jam mengikuti jalan, dan yang pasti dengan bonus
pemandangan pantai yang terlihat di sepanjang jalan, sampailah di penghujung
jalan.
Dengan memarkirkan motor yang tidak jauh dari lokasi tebing,
berjalan beberapa saat menyusuri pantai, sampailah di pantai dengan view tebing
yang cukup luas dan lumayan tinggi. Terkagum pasti, sembari duduk melepas lelah
perjalanan, kami menikmati sejenak pemandangan alam ciptaanNya yang sungguh
menarik untuk dipandang. Samsu dan Yogi
terinisiatif untuk mencari ikan
dan kawan yang lain, Pardo si Hotang dan Galuh si Akay dengan semangat mengumpulkan kayu kering untuk memanggang
ikan, walaupun sebenarnya amunisi
cemilan sudah dibawa.
Lanjut, semua sudah sibuk masing-masing dengan senjata
motretnya dan mondar mandir mencari spot terbaik. Adapula yang langsung berendam mandi laut, bahkan
Deta sang pewarta juga sibuk mencari spot khusus untuk membuat hajat yang sudah
di ujung tanduk. Dari kejauhan terlihat Bang Aries dan Tama yang sedang
"bertarung sengit”, mungkin berebut kekuasaan spot foto. Yahh begitulah,
musti asik dan menghibur diri agar liburan akhir pecan menjadi lebih
menyenangkan.
Ikan tongkol sudah matang dan langsung disantap,
cemilan-cemilan pun sudah ludes duluan, stok foto sudah pula dirasa cukup. Matahari
sudah mulai terasa panas di atas kepala, akhirnya kami memutuskan bergeser untuk hunting durian, karena menurut
kabar burung yang beredar di Utara
Pesisir Barat memang sedang musimnya. Akhirnya penutup hunting Tebing Pantai
Tanjung Jati ditutup dengan kopi durian yang nikmatnya tiada tara. Selanjutnya,
biarkan foto dan video yang berbicara lebih banyak.
Catatan :
Ada pengerjaan pembuatan Tambak Udang di samping dari Tebing
Pantai Tanjung Jati, yang menurut saya itu akan berdampak kurang baik bagi
ekosistem sekitar. Apalagi potensi wisata tempat tersebut amat besar dengan
segala keindahanya. Semoga peran penting pemerintah disini bisa membawa Pesisir
Barat selalu terdepan sebagai tujuan wisata andalan Provinsi Lampung. Aamiin….