Sepakat Jam 07.00, Berangkat
jam 08.30
Letusan Krakatau, kalau berpatokan
pada sejarah tahun 1883 pasti akan membuat semua orang takut dan khawatir. Letusan besar yang terdengar hingga
3.000 mil jauhnya, menewaskan setidaknya 36 ribu jiwa, hingga menjadi letusan gunung api
paling dahsyat dalam sejarah. Kondisi berbeda untuk saat ini, Gunung Anak Krakatau yang tingginya
300 meteran, beberapa minggu ini aktivitasnya mengalami kenaikan yang menjadi
status waspada, sudah ada larangan untuk
mendekatinya namun tetap aman untuk radius 1 kilometer.
Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau
menjadi panggilan tersendiri bagi om Budhi Marta Utama @paralampung, fotografer
senior di Lampung, yang sudah puluhan
kali mengunjungi gunung tersebut dan beberapa kali mengabadikan fenomena
erupsinya. Dimulai dari ajakan beliau di grup WhatApps @GenpiLampung untuk sharecost Hunting Lava Pijar Gunung
Anak Krakatau, tapi hanya beberapa
anggota saja yang berminat. Kalau kata bang Aries @riez_aries, hasil seleksi
berdasarkan ketampanan dan kemampuan bertahan hidup akhirnya terpilih tiga
peserta dari grup Genpi Lampung, Om Budhi @paralampung, Bang Aries @riez_aries
dan saya Rino @akunrino. Untungnya ada tambahan peserta dari luar grup, yaitu
om Dedi @dediacad, bang Ferdi @ferdi_awed sang Pewarta Foto, Ardy @ardynar kawan
bang Ferdi dan satu bule nyasar dari Prancis si Pier.
Rabu, 18 Juli 2018 jam 7 pagi Kami
sepakat untuk berkumpul di sekitar Lapangan Saburai Bandar Lampung. Seperti
biasa, keterlambatan datang sudah jadi pemakluman dan penundaan keberangkatan
juga sudah jadi hal biasa. Terlebih dua sejoli bang Ferdi dan Ardy yang agak
lumayan lama Kami tunggu, nyasar di kota sendiri atau malah memang kebiasaan
dari jaman sekolah hobi terlambat masuk kelas.
Setelah pasukan terkumpul di pukul
08.30 WIB, kami langsung tancap gas menuju Kota Kalianda, Lampung Selatan.
Sepanjang jalan diisi dengan obrolan perkenalan, bercanda dan tegur sapa,
karena memang beberapa masih belum saling mengenal, terlebih si Pier sang bule
dari Perancis. Sekitar lebih dari satu jam sampailah kami di Kota Kalianda,
singgah sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut karena ada anggota
tim yang belum sarapan. Beberapa sarapan, yang lain ngopi sambil menikmati
gorengan,. Di lain sudut, om Budhi menawari Pier untuk mencoba makanan yang
pasti belum pernah dia coba, tapi dia langsung berkomentar “ENAK SEKALI” dengan
logat bulenya. Karedok, yahh makanan Indonesia banget, menjadi salah satu
makanan khas Sunda berisi sayuran mentah yang dilumuri bumbu kacang sebagai
sausnya. Setelah kenyang, kami segera
menuju Dermaga Canti, karena sudah ada informasi dari om Budi kalau bang Candra
sang pilot Kapal sudah standby di Dermaga.
![]() |
| Terlihat kegiatan warga di Dermaga Canti, Lampung Selatan |
Perjalanan laut dimulai
Tak sampai 30 setengah jam, kami
sampai di Dermaga Canti, dari sini lah nanti perjalanan laut menuju Gunung Anak
Krakatau dimulai. Bang Candra dan beberapa awak kapal langsung menyambut kami,
dan bergegas membawa segala perlengkapan ke kapal. Tambahan logistik untuk bertahan hidup nanti
(padahal cuma mie instan dan kopi), sudah disempatkan berbelanja di minimarket
depan dermaga dan nasi bungkus masakan ibu-ibu warung makan sekitar dermaga sebagai
stok makan siang. Di pukul 11.00 WIB kami memulai berlayar mengarungi Selat
Sunda menuju tengah samudera. Baru berselang beberapa menit kapal berlayar,
bang Aries diam-diam membuka nasi bungkusnya dan nampak sekali nasi kombinasi
sayur dan ikan dipindah perlahan ke perutnya, yang berujung menular ke saya dan
yang lain. Sejam lebih perjalanan,
terlihat Dermaga Pulau Sebesi yang akhirnya kapal menyandarkan hatinya sejenak
disana. Ada beberapa kebutuhan pokok yang di bawa awak kapal yang harus
didistribusikan ke Pulau Sebesi tersebut. Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk
yang biasanya menjadi tempat singgah dan bermalam bagi para wisatawan yang
melakukan trip ke Gunung Anak Krakatau. Saya menyempatkan waktu untuk
menerbangkan si Mavic, mengambil footage secukupnya.![]() |
| Pulau Sebesi dari ketinggian, terlihat dermaga baru yang ada disana |
Abu Krakatau menyapa
Perjalanan berlanjut menuju target, satu jam setengah waktu yang dibutuhkan dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau, istirahat sejenak jadilah. Tak sempat pejamkan mata terlalu lama, sudah terdengar teriakan “Krakatau, Krakatau”. Yes, dari kejauhan terlihat penampakan Gunung Anak Krakatau membuat semua keluar dari dalam kapal berpindah ke atas dan depan kapal untuk mencari spot nyaman memotret. Cekrek…. Cekrek …. Cekrek….. suara shooter sudah mulai bersahutan. Sesekali juga terlihat segerombolan asap tebal keluar dari puncak Gunung Anak Krakatau, itu erupsinya. Semakin mendekat ke Krakatau, semakin terasa penglihatan mulai terganggu, ternyata debu erupsinya mengarah ke kapal kami. Untung sudah bersiap dengan kacamata andi badai, yang tak tertolong adalah baju putih “Pesona Indonesia” yang saya pakai, sudah berubah menjadi abu-abu. Om Budhi meminta sang pilot untuk menggerakkan kapal mengitari Gunung Anak Krakatau, namun tetap dalam radius aman.
![]() |
| Sapaan debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) |
Letusan demi letusan terjadi,
suara seperti gemuruh petir menyapa telinga. Disusul gumpalan asap dan lontaran
batu terlihat dari kejauhan. Tak
henti-hentinya kami mengabadikan momen itu, foto dan video, dari kamera maupun
handphone, semua merekam kejadian luar biasa yang ada di depan mata. Sesekali
Pier dinobatkan sebagai model of the day, untuk inframe dan sebagai pemanis
dalam komposisi foto. Nampak juga para
awak kapal menyempatkan diri berselfie ria, ternyata mereka juga narsis.
Pulau Rakata, Spot Hunting Lava
Pijar Krakatau
Setelah puas dengan belasan
telusan, tepat pukul 14.30 WIB kapal mengarah ke sebuah pulau besar tepat di
seberang Gunung Anak Krakatau. Ada tiga pulau yang ada di sekitar Gunung Anak
Krakatau, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata yang berjarak
sekitar 4 KM dari Gunung Anak Krakatau, radius sangat aman untuk status waspada
saat ini dan menjadi tempat singgah sementara dan sebagai spot untuk hunting
lava pijarnya. Pulau berpasir hitam dan
bersemak belukar, terdapat sedikit sisi
pulau spot untuk kami buka tenda. Pier dan om Dedi membangun tendanya, yang
lain sibuk mencari batang pohon yang kuat untuk menambatkan hammock sebagai
tempat bergelantungan memejamkan mata malam nanti. Berselang waktu, yang lain
sibuk menentukan spot menancapkan tripodnya, saya dengan semangat memasak air
putih untuk menyeduh kopi, ngopi ngapak ngopi !!!!!
![]() |
| Bentang pantai di Pulau Rakata, radius aman untuk memandang Gunung Anak Krakatau (GAK) |
Petunjuk om Budhi, lava pijar akan
terlihat dan saat peralihan dari terang ke gelap, artinya ba’da magrib baru
akan nampak. Dan lagi-lagi saya menyempatkan menerbangkan si Capung Rekam, guna
mendapatkan aerial view Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan,
setelah itu baru mencari spot untuk memotret.
Semua sudah pada tempatnya
masing-masing, Bang Aries, Om Dedi dan Pier memilih sayap kiri, saya da nom
Budhi gelandang tengah, sedangkan Bang Ferdi dan Ardy di posisi sayap kanan.
Lengkap sudah strategi menyerang kami, tanpa memikirkan pertahanan. Sedikit
tegukan kopi hangat dari gelas darurat potongan botol air mineral, menemani
petang menunggu detik-detik letusan terjadi. Pengaturan manual kamera, dengan
ISO rendah, bukan lensa di pertengahan, untuk mengusahakan speed rendah, agar
pergerakan lontaran lava pijar bisa terekam di foto. Senja indah mengiringi
hari menyambut malam, kepulan asap menampakkan diri dengan diiringi suara
dentuman letusan yang besar. Dengan sigap, semua memencet tombol shooter
kameranya masing-masing, masa iya kamera tetangga. Setelah sekian detik
menangkap gambar dan akhirnya terlihat di layar kamera. Teriakan demi terikan
terdengar, suara kegembiraan telah bisa mengabadikan lava pijar dalam sebuah
foto, yang ternyata indah saat hari gelap. Berkali-kali letusan, berkali-kali
pula kamera menangkapnya. Sampai akhirnya suasana sudah terlalu gelap dan sang
Gunung Anak Krakatau tak terlihat lagi bentuk tubuhnya, yang artinya sudah
tidak maksimal untuk pengambilan foto.
Api Unggun Pantai VS Kembang
Api Krakatau
Yahhh selanjutnya, waktu
dihabiskan untuk menyantap logistik yang sudah di bawa jauh-jauh dari Pulau
Sumatera. Mie instan bersama pendamping setianya sang telur mulai dimasak, dan
tanpa menunggu waktu lama segera disantap dan habis tanpa bekas sedikitpun.
Tambahan nutrisi dari roti dan buah-buahan yang di bawa bang Ferdi, katanya sih
panen di rumah.
Setelah perut penuh terisi, lanjut
semua berpencar mencari kayu kering dan sampah-sampah untuk dibakar dan dibuat
api unggun. Selain untuk menghangatkan tubuh di malam yang angin lumayan
kencang, nyamuk juga kabur berlarian dan tak berani mendekat ke rombongan kami.
Api unggun, kopi hangat, petikan nada dari guitarlele dan canda tawa disertai
suara petir menyambar sembari melihat langsung semburan lava pijar yang seperti
kembang api besar dari puncak Gunung Krakatau, semua terasa luar biasa dan
menjadi hal yang memuaskan jiwa. Larut,
dan malam semakin larut. Satu persatu memustuskan untuk kembali ke kamar
masing-masing (tenda dan hammock), untuk sekedar memejamkan mata dan memulihkan
tenaga, dengan harapan esok hari sebelum subuh akan mendapatkan momen seperti
sore tadi.
![]() |
| Berapi unggun ria, mengusir pasukan nyamuk dan hawa dingin |
Belum sampai waktu subuh, masih
sekitar pukul satu dini hari. Antara sadar atau masih tertidur terdengar suara
letusan erupsi yang cukup besar, dan benar-benar membuat hati deg-degan.
Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi, letusan sampai di lokasi kami
beristirahat. Bahkan batu-batu lava pijarnya terasa berjatuhan di sekitar kami.
Alhamdulillah dan bersyukur itu hanya hayalan bawah sadar, namun menjadi
pengalaman dan cerita tersendiri yang tak pernah bisa dilupakan.
Pagi yang mencekam !!!
Setelah subuh, semua sudah bersiap
dan berhasil mengabadikan beberapa letusan, hingga pagi dan sinar matahari
mulai menerangi. Beralih kembali memproses logistik untuk mengisi sela-sela
perut yang sudah mulai longgar kembali. Mungkin karena kelebihan muatan, bang
Ferdi sudah mulai gelisah dan ternyata kontraksi terjadi dan perut mulai
memberontak. DI Pulau tak berpenghuni seperti ini mana mungkin ada WC
Umum, kondisi seperti itu yang membuat
suasana sangat mencekam. Akhirnya dengan gagah perkasa dia memberanikan diri
menuju ke ujung pulau guna bingkar muatan. Setelah bang Ferdi tuntas, dan dating dengan raut muka riang gembira,
dan tanpa dinyana menular ke saya, mules juga ternyata perut. Yaps,
saya putuskan untuk mengikuti jejak beliau yang lebih senior, namun tanpa
mengusik markasnya yang sudah diamankan dari serangan musuh.
Hasil Jepretan Letusan Gunung Anak Krakatau


Sayonara
Akhirnya waktu untuk pulang dan
kembali ke peradabannya masing-masing. Terima kasih untuk Om Budhi Marta Utama
yang telah membawa saya dan teman-teman yang lain menyaksikan fenomena alam
yang sangat mempesona dam berhasil mengabadikannya. Mungkin ini akan menjadi pengalaman
yang tidak akan pernah terlupakan, sampai kapanpun. Semoga alam selalu
bersabahat, dan semoga kita selalu bisa menikmati keindahannya. Terima kasih…








Tidak ada komentar:
Posting Komentar