Jumat, 20 Juli 2018

Hunting Lava Pijar Gunung Anak Krakatau


Sepakat Jam 07.00, Berangkat jam 08.30
Letusan Krakatau, kalau berpatokan pada sejarah tahun 1883 pasti akan membuat semua orang takut dan  khawatir. Letusan besar yang terdengar hingga 3.000 mil jauhnya, menewaskan setidaknya 36 ribu  jiwa, hingga menjadi letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah. Kondisi berbeda untuk  saat ini, Gunung Anak Krakatau yang tingginya 300 meteran, beberapa minggu ini aktivitasnya mengalami kenaikan yang menjadi status  waspada, sudah ada larangan untuk mendekatinya namun tetap aman untuk radius 1 kilometer.
Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi panggilan tersendiri bagi om Budhi Marta Utama @paralampung, fotografer senior  di Lampung, yang sudah puluhan kali mengunjungi gunung tersebut dan beberapa kali mengabadikan fenomena erupsinya. Dimulai dari ajakan beliau di grup WhatApps @GenpiLampung  untuk sharecost Hunting Lava Pijar Gunung Anak Krakatau, tapi hanya  beberapa anggota saja yang berminat. Kalau kata bang Aries @riez_aries, hasil seleksi berdasarkan ketampanan dan kemampuan bertahan hidup akhirnya terpilih tiga peserta dari grup Genpi Lampung, Om Budhi @paralampung, Bang Aries @riez_aries dan saya Rino @akunrino. Untungnya ada tambahan peserta dari luar grup, yaitu om Dedi @dediacad, bang Ferdi @ferdi_awed sang Pewarta Foto, Ardy @ardynar kawan bang Ferdi dan satu bule nyasar dari Prancis si Pier.
Rabu, 18 Juli 2018 jam 7 pagi Kami sepakat untuk berkumpul di sekitar Lapangan Saburai Bandar Lampung. Seperti biasa, keterlambatan datang sudah jadi pemakluman dan penundaan keberangkatan juga sudah jadi hal biasa. Terlebih dua sejoli bang Ferdi dan Ardy yang agak lumayan lama Kami tunggu, nyasar di kota sendiri atau malah memang kebiasaan dari jaman sekolah hobi terlambat masuk kelas.
Setelah pasukan terkumpul di pukul 08.30 WIB, kami langsung tancap gas menuju Kota Kalianda, Lampung Selatan. Sepanjang jalan diisi dengan obrolan perkenalan, bercanda dan tegur sapa, karena memang beberapa masih belum saling mengenal, terlebih si Pier sang bule dari Perancis. Sekitar lebih dari satu jam sampailah kami di Kota Kalianda, singgah sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut karena ada anggota tim yang belum sarapan. Beberapa sarapan, yang lain ngopi sambil menikmati gorengan,. Di lain sudut, om Budhi menawari Pier untuk mencoba makanan yang pasti belum pernah dia coba, tapi dia langsung berkomentar “ENAK SEKALI” dengan logat bulenya. Karedok, yahh makanan Indonesia banget, menjadi salah satu makanan khas Sunda berisi sayuran mentah yang dilumuri bumbu kacang sebagai sausnya.  Setelah kenyang, kami segera menuju Dermaga Canti, karena sudah ada informasi dari om Budi kalau bang Candra sang pilot Kapal sudah standby di Dermaga.

Terlihat kegiatan warga di Dermaga Canti, Lampung Selatan
Perjalanan laut dimulai
Tak sampai 30 setengah jam, kami sampai di Dermaga Canti, dari sini lah nanti perjalanan laut menuju Gunung Anak Krakatau dimulai. Bang Candra dan beberapa awak kapal langsung menyambut kami, dan bergegas membawa segala perlengkapan ke kapal.  Tambahan logistik untuk bertahan hidup nanti (padahal cuma mie instan dan kopi), sudah disempatkan berbelanja di minimarket depan dermaga dan nasi bungkus masakan ibu-ibu warung makan sekitar dermaga sebagai stok makan siang. Di pukul 11.00 WIB kami memulai berlayar mengarungi Selat Sunda menuju tengah samudera. Baru berselang beberapa menit kapal berlayar, bang Aries diam-diam membuka nasi bungkusnya dan nampak sekali nasi kombinasi sayur dan ikan dipindah perlahan ke perutnya, yang berujung menular ke saya dan yang lain.  Sejam lebih perjalanan, terlihat Dermaga Pulau Sebesi yang akhirnya kapal menyandarkan hatinya sejenak disana. Ada beberapa kebutuhan pokok yang di bawa awak kapal yang harus didistribusikan ke Pulau Sebesi tersebut. Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk yang biasanya menjadi tempat singgah dan bermalam bagi para wisatawan yang melakukan trip ke Gunung Anak Krakatau. Saya menyempatkan waktu untuk menerbangkan si Mavic, mengambil footage secukupnya.
Pulau Sebesi dari ketinggian, terlihat dermaga baru yang ada disana


Abu Krakatau menyapa

Perjalanan berlanjut menuju target, satu jam setengah waktu yang dibutuhkan dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau, istirahat sejenak jadilah. Tak sempat pejamkan mata terlalu lama, sudah terdengar teriakan “Krakatau, Krakatau”. Yes, dari kejauhan terlihat penampakan Gunung Anak Krakatau membuat semua keluar dari dalam kapal berpindah ke atas dan depan kapal untuk mencari spot nyaman memotret. Cekrek…. Cekrek …. Cekrek….. suara shooter sudah mulai bersahutan. Sesekali juga terlihat segerombolan asap tebal keluar dari puncak Gunung Anak Krakatau, itu erupsinya. Semakin mendekat ke Krakatau, semakin terasa penglihatan mulai terganggu, ternyata debu erupsinya mengarah ke kapal kami. Untung sudah bersiap dengan kacamata andi badai, yang tak tertolong adalah baju putih “Pesona Indonesia” yang saya pakai, sudah berubah menjadi abu-abu. Om Budhi meminta sang pilot untuk menggerakkan kapal mengitari Gunung Anak Krakatau, namun tetap dalam radius aman.
Sapaan debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK)


Letusan demi letusan terjadi, suara seperti gemuruh petir menyapa telinga. Disusul gumpalan asap dan lontaran batu terlihat dari kejauhan.  Tak henti-hentinya kami mengabadikan momen itu, foto dan video, dari kamera maupun handphone, semua merekam kejadian luar biasa yang ada di depan mata. Sesekali Pier dinobatkan sebagai model of the day, untuk inframe dan sebagai pemanis dalam komposisi foto.  Nampak juga para awak kapal menyempatkan diri berselfie ria, ternyata mereka juga narsis.

Pulau Rakata, Spot Hunting Lava Pijar Krakatau
Setelah puas dengan belasan telusan, tepat pukul 14.30 WIB kapal mengarah ke sebuah pulau besar tepat di seberang Gunung Anak Krakatau. Ada tiga pulau yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata yang berjarak sekitar 4 KM dari Gunung Anak Krakatau, radius sangat aman untuk status waspada saat ini dan menjadi tempat singgah sementara dan sebagai spot untuk hunting lava pijarnya.  Pulau berpasir hitam dan bersemak belukar, terdapat sedikit  sisi pulau spot untuk kami buka tenda. Pier dan om Dedi membangun tendanya, yang lain sibuk mencari batang pohon yang kuat untuk menambatkan hammock sebagai tempat bergelantungan memejamkan mata malam nanti. Berselang waktu, yang lain sibuk menentukan spot menancapkan tripodnya, saya dengan semangat memasak air putih untuk menyeduh kopi, ngopi ngapak ngopi !!!!!
Bentang pantai di Pulau Rakata, radius aman untuk memandang Gunung Anak Krakatau (GAK)

Petunjuk om Budhi, lava pijar akan terlihat dan saat peralihan dari terang ke gelap, artinya ba’da magrib baru akan nampak. Dan lagi-lagi saya menyempatkan menerbangkan si Capung Rekam, guna mendapatkan aerial view Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan, setelah itu baru mencari spot untuk memotret. 
Semua sudah pada tempatnya masing-masing, Bang Aries, Om Dedi dan Pier memilih sayap kiri, saya da nom Budhi gelandang tengah, sedangkan Bang Ferdi dan Ardy di posisi sayap kanan. Lengkap sudah strategi menyerang kami, tanpa memikirkan pertahanan. Sedikit tegukan kopi hangat dari gelas darurat potongan botol air mineral, menemani petang menunggu detik-detik letusan terjadi. Pengaturan manual kamera, dengan ISO rendah, bukan lensa di pertengahan, untuk mengusahakan speed rendah, agar pergerakan lontaran lava pijar bisa terekam di foto. Senja indah mengiringi hari menyambut malam, kepulan asap menampakkan diri dengan diiringi suara dentuman letusan yang besar. Dengan sigap, semua memencet tombol shooter kameranya masing-masing, masa iya kamera tetangga. Setelah sekian detik menangkap gambar dan akhirnya terlihat di layar kamera. Teriakan demi terikan terdengar, suara kegembiraan telah bisa mengabadikan lava pijar dalam sebuah foto, yang ternyata indah saat hari gelap. Berkali-kali letusan, berkali-kali pula kamera menangkapnya. Sampai akhirnya suasana sudah terlalu gelap dan sang Gunung Anak Krakatau tak terlihat lagi bentuk tubuhnya, yang artinya sudah tidak maksimal untuk pengambilan foto.

Api Unggun Pantai VS Kembang Api Krakatau
Yahhh selanjutnya, waktu dihabiskan untuk menyantap logistik yang sudah di bawa jauh-jauh dari Pulau Sumatera. Mie instan bersama pendamping setianya sang telur mulai dimasak, dan tanpa menunggu waktu lama segera disantap dan habis tanpa bekas sedikitpun. Tambahan nutrisi dari roti dan buah-buahan yang di bawa bang Ferdi, katanya sih panen di rumah.
Setelah perut penuh terisi, lanjut semua berpencar mencari kayu kering dan sampah-sampah untuk dibakar dan dibuat api unggun. Selain untuk menghangatkan tubuh di malam yang angin lumayan kencang, nyamuk juga kabur berlarian dan tak berani mendekat ke rombongan kami. Api unggun, kopi hangat, petikan nada dari guitarlele dan canda tawa disertai suara petir menyambar sembari melihat langsung semburan lava pijar yang seperti kembang api besar dari puncak Gunung Krakatau, semua terasa luar biasa dan menjadi hal yang memuaskan jiwa.  Larut, dan malam semakin larut. Satu persatu memustuskan untuk kembali ke kamar masing-masing (tenda dan hammock), untuk sekedar memejamkan mata dan memulihkan tenaga, dengan harapan esok hari sebelum subuh akan mendapatkan momen seperti sore tadi.
Berapi unggun ria, mengusir pasukan nyamuk dan hawa dingin

Belum sampai waktu subuh, masih sekitar pukul satu dini hari. Antara sadar atau masih tertidur terdengar suara letusan erupsi yang cukup besar, dan benar-benar membuat hati deg-degan. Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi, letusan sampai di lokasi kami beristirahat. Bahkan batu-batu lava pijarnya terasa berjatuhan di sekitar kami. Alhamdulillah dan bersyukur itu hanya hayalan bawah sadar, namun menjadi pengalaman dan cerita tersendiri yang tak pernah bisa dilupakan.

Pagi yang mencekam !!!
Setelah subuh, semua sudah bersiap dan berhasil mengabadikan beberapa letusan, hingga pagi dan sinar matahari mulai menerangi. Beralih kembali memproses logistik untuk mengisi sela-sela perut yang sudah mulai longgar kembali. Mungkin karena kelebihan muatan, bang Ferdi sudah mulai gelisah dan ternyata kontraksi terjadi dan perut mulai memberontak. DI Pulau tak berpenghuni seperti ini mana mungkin ada WC Umum,  kondisi seperti itu yang membuat suasana sangat mencekam. Akhirnya dengan gagah perkasa dia memberanikan diri menuju ke ujung pulau guna bingkar muatan. Setelah bang Ferdi tuntas,  dan dating dengan raut muka riang gembira, dan tanpa dinyana menular ke saya, mules juga ternyata perut.   Yaps, saya putuskan untuk mengikuti jejak beliau yang lebih senior, namun tanpa mengusik markasnya yang sudah diamankan dari serangan musuh.

Hasil Jepretan Letusan Gunung Anak Krakatau
 






Sayonara
Akhirnya waktu untuk pulang dan kembali ke peradabannya masing-masing. Terima kasih untuk Om Budhi Marta Utama yang telah membawa saya dan teman-teman yang lain menyaksikan fenomena alam yang sangat mempesona dam berhasil mengabadikannya. Mungkin ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, sampai kapanpun. Semoga alam selalu bersabahat, dan semoga kita selalu bisa menikmati keindahannya. Terima kasih…









    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar